Selasa, 27 Maret 2012

Ciri-Ciri Ahli Bid’ah

Oleh : Abu ‘Utsmaan Ismaa’iil bin ‘Abdirrahmaan Ash- Shaabuuniy rahimahullaah (373 – 449 H)

Ada baiknya jika saya tuliskan sedikit pemaparan biografi Al- Imam Abu ‘Utsman Ash- Shaabuuniy rahimahullah. “Beliau adalah Abu ‘Utsmaan Ismaa’iil bin ‘Abdirrahmaan bin Ahmad bin Ismaa’iil bin ‘Aamir bin ‘Aabid Ash- Shaabuuniy An- Naisaabuuriy, Al-Haafidh, Al- Mufassir, Al-Muhadiits, Al- Faqiih, Al-Mulaqqib, Syaikhul- Islaam. Lafadh ‘Ash- Shaabuuniy’ dinisbatkan kepada pekerjaan beliau sebagai pembuat/pedagang sabun, sebagaimana disebutkan oleh As- Sam’aaniy rahimahullah dalam kitab Al-Ansaab. Dilahirkan pada pertengahan bulan Jumadil- Akhir 373 H.

Diantara guru beliau rahimahullah yang terkenal adalah :
1. Al-Haakim An-Naisaburiy, Abu ‘Abdillah – penulis kitab Al-Mustadrak ‘alash-Shahihain.
2. Abi Thaahir Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah.
3. Abu Muhammad Al-Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Mikhlad Asy-Syaibaniy An- Naisaburiy.
4. Abul-Hasan Ahmad bin Muhammad bin ‘Umar Az-Zaahid.
5. Dan yang lainnya.

Adapun murid-murid beliau rahimahullah yang terkenal antara lain :
1. Abul-Qaasim ‘Aliy bin Muhammad bin ‘Aliy bin Ahmad bin Abil-‘Alaa’ As-Sulamiy Al- Mushiishiy Al-Faqiih Asy-Syaafi’iy; seorang faqih lagi tsiqah.
2. Abu Shaalih Al-Muadzdzin Ahmad bin ‘Abdil-Malik bin ‘Aliy bin Ahmad An- Naisaburiy Al-Haafidh.
3. Abu Muhammad ‘Abdil-‘Aziiz bin Ahmad bin Muhammad At- Taimiy Ad-Dimasyqiy Al- Kattaaniy; seorang imam, muhaddits, lagi mutqin.
4. Dan yang lainnya.

Pujian ulama terhadap beliau rahimahullah :
1. Al-Imam Abu Bakr Al- Baihaqiy rahimahullah : ﺇﻧﻪ ﺇﻣﺎﻡ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺣﻘﺎً ﻭﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺻﺪﻗﺎً ، ﻭﺃﻫﻞ ﻋﺼﺮﻩ ﻛﻠﻬﻢ ﻣﺬﻋﻨﻮﻥ ﻟﻌﻠﻮ ﺷﺄﻧﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﺴﻴﺎﺩﺓ ﻭﺣﺴﻦ ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﻭﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﻟﺰﻭﻡ ﻃﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﺴﻠﻒ “Beliau adalah imam kaum muslimin yang sebenar-benarnya, seorang Syaikhul-Islam sejati. Semua orang di masanya mengakui ketinggian beliau dalam agama, kemuliaannya, kebaikan ‘aqidahnya, keluasan ilmunya, dan kesungguhannya dalam hal kewajiban meniti jalan salaf”.
2. Al-Imam Ibnu Naashiruddin rahimahullah : ﻛﺎﻥ ﺇﻣﺎﻣﺎً ﺣﺎﻓﻈﺎً ﻋﻤﺪﺓ ﻣﻘﺪﻣﺎً ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻋﻆ ﻭﺍﻷﺩﺏ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻮﻡ ﻭﺣﻔﻈﺔ ﻟﻠﺤﺪﻳﺚ ﻭﺗﻔﺴﻴﺮ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ “Beliau adalah seorang imam, haafidh, seorang pemimpin yang didahulukan dalam nasihat, adab, dan yang lainnya pada bidang ilmu, hafalan hadits, serta tafsir Al-Qur’an”.
3. Al-Haafidh Adz-Dzahabiy rahimahullah : ﺍﻟﻮﺍﻋﻆ، ﺍﻟﻤﻔﺴﺮ، ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ، ﺃﺣﺪ ﺍﻷﻋﻼﻡ، ﻛﺎﻥ ﺷﻴﺦ ﺧﺮﺳﺎﻥ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻧﻪ. “Ahli pemberi nasihat, mufassir, dan penulis. Beliau juga salah seorang tokoh terkemuka, sekaligus penghulu ulama Khurasan”. Beliau wafat pada bulan Muharram tahun 449 H. [selesai]

Adapun penjelasan mengenai ciri-ciri Ahlul-Bid’ah sebagaimana tercantum dalam kitab beliau yang berjudul : ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil- Hadiits adalah sebagai berikut : ١٦٢ - ﻭﻋﻼﻣﺎﺕ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻠﻬﺎ ﺑﺎﺩﻳﺔ ﻇﺎﻫﺮﺓ ، ﻭﺃﻇﻬﺮ ﺁﻳﺎﺗﻬﻢ ﻭﻋﻼﻣﺎﺗﻬﻢ : ﺷﺪﺓ ﻣﻌﺎﺩﺍﺗﻬﻢ ﻣﺤﻤﻠﺔ ﺃﺧﺒﺎﺭ ﺍﻟﻨﺒﻲ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ، ﻭﺍﺣﺘﻘﺎﺭﻫﻢ ﻟﻬﻢ ]ﻭﺍﺳﺘﺨﻔﺎﻓﻬﻢ ﺑﻬﻢ[ ، ﻭﺗﺴﻤﻴﺘﻬﻢ ﺇﻳﺎﻫﻢ ﺣﺸﻮﻳﺔ ، ﻭﺟﻬﻠﺔ ، ﻭﻇﺎﻫﺮﻳﺔ ، ﻭﻣﺸﺒﻬﻪ . ﺍﻋﺘﻘﺎﺩﺍ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﻲ ﺃﺧﺒﺎﺭ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﺃﻧﻬﺎ ﺑﻤﻌﺰﻝ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ، ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻣﺎ ﻳﻠﻘﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻣﻦ ﻧﺘﺎﺋﺞ ﻋﻘﻮﻟﻬﻢ ﺍﻟﻔﺎﺳﺪﺓ ، ﻭﻭﺳﺎﻭﺱ ﺻﺪﻭﺭﻫﻢ ﺍﻟﻤﻈﻠﻤﺔ ، ﻭﻫﻮ ﺃﺟﺲ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﺍﻟﺨﺎﻟﻴﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ، ]ﻭﻛﻠﻤﺎﺗﻬﻢ[ ﻭﺣﺠﺠﻬﻢ ﺑﻞ ﺷﺒﻬﻬﻢ ﺍﻟﺪﺍﺣﻀﺔ ﺍﻟﺒﺎﻃﻠﺔ) .ﺃُﻭْﻟَﺌِﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻌَﻨَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﺄَﺻَﻤَّﻬُﻢْ ﻭَﺃَﻋْﻤَﻰ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭَﻫُﻢْ.( )ﻭَﻣَﻦ ﻳُﻬِﻦِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦ ﻣُّﻜْﺮِﻡٍ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَﺎﺀ.( 162 – Dan ciri-ciri yang dimiliki oleh Ahli Bid’ah itu amatlah jelas dan terang. Yang paling menonjol di antaranya adalah : Besarnya antipati mereka terhadap para pembawa riwayat hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, melecehkan mereka, [merendahkan mereka], bahkan menggelari mereka sebagai hasyawiyyah (tukang hapal catatan kaki), orang-orang jahil, dhahiriyyah (tekstual), dan musyabbihah.

Semua itu didasari keyakinan mereka bahwa hadits-hadits Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam itu terpisah dari ilmu. Dan ilmu (menurut mereka) adalah apa- apa yang dijejalkan setan kepada mereka, hasil dari olah akal mereka yang rusak, waswas dari hati mereka yang gelap, imajinasi mereka yang hampa dari kebenaran, serta [berbagai kalimat] dan hujjah mereka yang lemah dan bathil. Allah telah berfirman : “Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan- Nya penglihatan mereka” (QS. Muhammad : 23). “

Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Al-Hajj : 18). ١٦٣ - ﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﻳﻘﻮﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﻳﻘﻮﻝ ، ﺳﻤﻌﺖ ﺟﻌﻔﺮ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺳﻨﺎﻥ ﺍﻟﻮﺍﺳﻄﻲ ﻳﻘﻮﻝ ، ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺳﻨﺎﻥ ﺍﻟﻘﻄﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ ) :ﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﺒﺘﺪﻉ ﺇﻻ ﻭﻫﻮ ﻳﺒﻐﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﺑﺘﺪﻉ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻧﺰﻋﺖ ﺣﻼﻭﺓ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﻦ ﻗﻠﺒﻪ. ( 163 – Aku mendengar Al- Haakim Abu ‘Abdillah Al-Haafidh berkata : Aku mendengar Abu ‘Aliy Al-Husain bin ‘Aliy Al- Haafidh berkata : Aku mendengar Ja’far bin Ahmad bin Sinaan Al-Waasithiy berkata : Aku mendengar Ahmad bin Sinaan Al-Qaththaan berkata : “Tidak ada seorang mubtadi’ di dunia ini kecuali ia membenci Ahlul-Hadits. Karena bila ada seorang yang berbuat bid’ah, maka akan dicabut manisnya ilmu hadits dalam hatinya”. ١٦٤ - ﻭﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻳﻘﻮﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺍﻟﺤﻦﻅﻟﻲ ﺑﺒﻐﺪﺍﺩ ﻳﻘﻮﻝ ، ﺳﻤﻌﺖ ]ﺃﺑﺎ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ[ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻳﻘﻮﻝ : ﻛﻨﺖ ﺃﻧﺎ ﻭﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻋﻨﺪ ﺇﻣﺎﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ؛ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ : ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺫﻛﺮﻭﺍ ﻻﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻗﺘﻴﻠﺔ ﺑﻤﻜﺔ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻓﻘﺎﻝ : ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻗﻮﻡ ﺳﻮﺀ ﻓﻘﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﻭﻫﻮ ﻳﻨﻔﺾ ﺛﻮﺑﻪ ﻭﻳﻘﻮﻝ : ﺯﻧﺪﻳﻖ ! ﺯﻧﺪﻳﻖ ! ]ﺯﻧﺪﻳﻖ: [ ﺣﺘﻰ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﺒﻴﺖ . 164 – Aku (Abu ‘Utsman Ash- Shaabuniy) mendengar Al- Haakim berkata : Aku mendengar Abu Al-Husain Muhammad bin Ahmad Al- Handhaliy berkata di Baghdaad : Aku mendengar [Abu Isma’il]

Muhammad bin Isma’il At-Tirmidziy berkata : “Aku dan Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidziy pernah berada di sisi Imaamuddiin Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal. Maka Ahmad bin Al-Hasan berkata kepadanya : ‘Wahai Abu ‘Abdillah, orang-orang pernah menyebut Ahli Hadits di hadapan Ibnu Abi Qutailah. Maka ia (Ibnu Abi Qutailah) berkata : ‘Para Ahli Hadits (Ashhaabul-Hadiits) adalah satu kaun yang jelek’. Maka Ahmad bin Hanbal berdiri sambil mengibaskan pakaiannya seraya berkata : ‘Zindiq, zindiq, [zindiq] !’, hingga ia masuk rumah”. ١٦٥ - ﻭﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ ، ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﻧﺼﺮ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺳﻬﻞ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﺑﺒﺨﺎﺭﻯ ﻳﻘﻮﻝ ، ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﻧﺼﺮ ﺑﻦ ﺳﻼﻡ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﻳﻘﻮﻝ):ﻟﻴﺲ ﺷﻲﺀ ﺃﺛﻘﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻹﻟﺤﺎﺩ ، ﻭﻻ ﺃﺑﻐﺾ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻣﻦ ﺳﻤﺎﻉ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺭﻭﺍﻳﺘﻪ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩﻩ .( 165 – Aku mendengar (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) Al- Haakim Abu ‘Abdillah berkata : Aku mendengar Abu Nashr Ahmad bin Sahl, seorang faqih negeri Bukhara, berkata : Aku mendengar Abu Nashr bin Salaam Al-Faqiih berkata : “Tidak ada satu hal yang lebih berat dan dibenci oleh Ahlul- Ilhaad (pengingkar/atheis/Ahli Bid’ah) daripada mendengarkan hadits dan meriwayatkan dengan sanadnya”. ١٦٦ - ﻭﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻳﻘﻮﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﺑﻦ ﺃﻳﻮﺏ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ – ﻭﻫﻮ ﻳﻨﺎﻇﺮ ﺭﺟﻼً – ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻓﻼﻥ ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﻟﺮﺟﻞ : ﺩﻋﻨﺎ ﻣﻦ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺇﻟﻰ ﻣﺘﻰ ﺣﺪﺛﻨﺎ ؟ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻟﻪ : ﻗﻢ ﻳﺎ ﻛﺎﻓﺮ ، ﻓﻼ ﻳﺤﻞ ﻟﻚ ﺃﻥ ﺗﺪﺧﻞ ﺩﺍﺭﻱ ﺑﻌﺪ ﻫﺬﺍ ﺃﺑﺪﺍً. ﺙﻡ ﺍﻟﺘﻔﺖ ﺇﻟﻴﻨﺎ ﻭﻗﺎﻝ : ﻣﺎ ﻗﻠﺖ ]ﻗﻂ[ ﻷﺣﺪ ﻗﻂ ﻣﺎ ﺗﺪﺧﻞ ﺩﺍﺭﻱ ﺇﻻ ﻫﺬﺍ. 166 – Aku (Abu ‘Utsman Ash- Shaabuniy) mendengar Al- Haakim berkata : Aku mendengar Asy-Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ishaaq bin Ayyuub Al-Faqiih – saat itu ia tengah berdebat dengan seorang laki-laki - . Maka berkatalah Asy-Syaikh Abu Bakr : “Haddatsanaa Fulaan (Telah menceritakan kepada kami Fulan)”. Laki-laki tersebut berkata kepadanya : “Tinggalkan kami dari perkataan haddatsanaa. Sampai kapan kita menyebut haddatsanaa ?”.

Syaikh Abu Bakr berkata : “Berdirilah wahai kafir ! Tidak halal bagimu untuk memasuki rumahku setelah ini untuk selamanya”. Kemudian ia (Asy-Syaikh Abu Bakr) menoleh kepada kami dan berkata : “Aku tidak pernah berkata pada seorang pun untuk tidak masuk ke rumahku kecuali pada orang ini”. ١٦٧ - ﺳﻤﻌﺖ ]ﺍﻷﺳﺘﺎﺫ[ ﺃﺑﺎ ﻣﻨﺼﻮﺭ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺑﻦ ﺣﻤﺸﺎﺩ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻟﺰﺍﻫﺪ ]ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ[ ﻳﻘﻮﻝ ، ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﺟﻌﻔﺮ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺍﻟﻤﻘﺮﻯ ﺍﻟﺮﺍﺯﻱ ﻳﻘﻮﻝ : ﻗﺮﺉ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﺎﺗﻢ ﺍﻟﺮﺍﺯﻱ ﻭﺃﻧﺎ ﺃﺳﻤﻊ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﻲ ﻳﻘﻮﻝ – ﻋﻨﻰ ﺑﻪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺑﻠﺪﻩ ﺃﺑﺎ ﺣﺎﺗﻢ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺩﺭﻳﺲ ﺍﻟﺤﻨﻈﻠﻲ ﺍﻟﺮﺍﺯﻱ – ﻳﻘﻮﻝ : ) ﻋﻼﻣﺔ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﻮﻗﻴﻌﺔ ﻓﻲ ﺃﻫﻞ ﺍﻷﺛﺮ ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺍﻟﺰﻧﺎﺩﻗﺔ : ﺗﺴﻤﻴﺘﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻷﺛﺮ ﺣﺸﻮﻳﺔ ، ﻳﺮﻳﺪﻭﻥ ﺑﺬﻟﻚ ﺇﺑﻄﺎﻝ ﺍﻵﺛﺎﺭ . ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭﻳﺔ : ﺗﺴﻤﻴﺘﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﺠﺒﺮﺓ . ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ : ﺗﺴﻤﻴﺘﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﺸﺒﻬﺔ . ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ : ﺗﺴﻤﻴﺘﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻷﺛﺮ ﻧﺎﺑﺘﺔ ﻭﻧﺎﺻﺒﺔ . 167 –

Aku (Abu ‘Utsman Ash- Shaabuniy) mendengar [Al- Ustadz] Abu Manshuur Muhammad bin ‘Abdillah bin Himsyaad Al-’Aalim Az-Zaahid [rahimahullah] berkata : Aku mendengar Abul-Qaasim Ja’far bin Ahmad Al-Muqriy Ar-Raaziy berkata : Pernah dibacakan kepada ‘Abdurrahman bin Abi Haatim Ar-Raaziy, dan waktu itu aku mendengarkannya : Aku mendengar ayahku berkata – yang dimaksudkan adalah penghulu ulama di negerinya, yaitu Abu Haatim Muhammad bin Idriis Al-Handhaliy Ar-Raaziy berkata - : “Tanda-tanda Ahli Bid’ah adalah mencela Ahlul- Atsar. Tanda-tanda Zanaadiqah adalah penamaan mereka terhadap Ahlul-Atsar dengan Hasyawiyyah. Mereka memaksudkan hal itu untuk membatalkan/menolak atsar. Tanda-tanda Qadariyyah adalah penamaan mereka terhadap Ahlus-Sunnah dengan Mujabbirah (=Jabriyyah, golongan yang hanya bergantung kepada taqdir). Tanda-tanda Jahmiyyah adalah penamaan mereka kepada Ahlus-Sunnah dengan Musyabbihah. Dan tanda-tanda Raafidlah adalah penamaan mereka kepada Ahlul-Atsar dengan Naabitah serta Naashibah”. ١٦٨ - ﻗﻠﺖ : ﻭﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﻋﺼﺒﻴﺔ ، ﻭﻻ ﻳﻠﺤﻖ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻻ ﺍﺳﻢ ﻭﺍﺣﺪ ؛ ﻭﻫﻮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ 168 – Aku (Abu ‘Utsman Ash- Shaabuniy) berkata : “Semuanya itu dikarenakan ashabiyyah (fanatisme golongan). Tidak ada sebutan yang pantas bagi Ahlus-Sunnah melainkan satu saja, yaitu : Ahlul-Hadiits”. ١٦٩ - ﻗﻠﺖ : ﺃﻧﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺳﻤﺎﺀ ﺍﻟﺘﻲ ﻟﻘﺒﻮﺍ ﺑﻬﺎ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ] -ﻭﻻ ﻳﻠﺤﻘﻬﻢ ﺷﻲﺀ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻀﻼ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻣﻨﺔ- [ ؛ ﺳﻠﻜﻮﺍ ﻣﻌﻬﻢ ﻣﺴﻠﻚ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ]ﻟﻌﻨﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ[ ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻓﺈﻧﻬﻢ ﺃﻗﺘﺴﻤﻮﺍ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﻓﻴﻪ : ﻓﺴﻤﺎﻩ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺳﺎﺣﺮﺍً ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﻛﺎﻫﻨﺎ ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﺷﺎﻋﺮﺍً ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﻣﺠﻨﻮﻧﺎً ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﻣﻔﺘﻮﻧﺎً ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﻣﻔﺘﺮﻳﺎ ﻣﺨﺘﻠﻘﺎً ﻛﺬﺍﺑﺎً ، ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻣﻦ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻤﻌﺎﺋﺐ ﺑﻌﻴﺪﺍً ﺑﺮﻳﺌﺎً ، ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺇﻻ ﺭﺳﻮﻻً ﻣﺼﻄﻔﻰ ﻧﺒﻴﺎً ، ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ) :ﺍﻧﻈُﺮْ ﻛَﻴْﻒَ ﺿَﺮَﺑُﻮﺍ ﻟَﻚَ ﺍﻷَﻣْﺜَﺎﻝَ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻓَﻼَ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻴﻌُﻮﻥَ ﺳَﺒِﻴﻼً .( 169 – Aku (Abu ‘Utsman Ash- Shaabuniy) berkata : “Aku memandang para Ahli Bid’ah dalam penamaan ini yang kemudian mereka gelarkan dengannya kepada Ahlus- Sunnah – [namun dengan karunia dan keutamaan Allah, tidak sedikitpun yang pantas disandarkan kepada mereka] adalah mengikuti jalan kaum musyrikin [semoga Allah melaknat mereka] terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membagi-bagi perkataan di dalamnya.

Sebagian mereka menamakan beliau dengan tukang sihir, sebagian lagi dengan dukun, sebagian lagi dengan tukang syair, sebagian lagi dengan orang gila, sebagian lagi dengan orang yang terfitnah, sebagian lagi dengan pembual, orang yang mengada-ada, lagi pendusta. Padahal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dan jauh dari segala aib tersebut. Beliau hanyalah seorang Rasul dan Nabi yang terpilih. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman : ‘Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu)’ (QS. Al-Furqaan : 9)”. ١٧٠ - ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ ﺧﺬﻟﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻗﺘﺴﻤﻮﺍ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺣﻤﻠﺔ ﺃﺧﺒﺎﺭﻩ ، ﻭﻧﻘﻠﻪ ﺃﺛﺎﺭﻩ ، ﻭﺭﻭﺍﺓ ﺃﺣﺎﺩﻳﺜﻪ ﺍﻟﻤﻘﺘﺪﻳﻦ ﺑﺴﻨﺘﻪ ]ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻓﻴﻦ ﺑﺄﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ[، ﻓﺴﻤﺎﻫﻢ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺣﺸﻮﻳﺔ ، ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﻣﺸﺒﻬﺔ ، ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﻧﺎﺑﺘﺔ ، ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﻧﺎﺻﺒﺔ ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﺟﺒﺮﻳﺔ. ﻭﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﺼﺎﻣﺔ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻌﺎﺋﺐ ﺑﺮﻳﺌﺔ ، ﺯﻛﻴﺔ ﻧﻘﻴﺔ ، ﻭﻟﻴﺴﻮﺍ ﺇﻻ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﻤﻀﻴﺔ ، ﻭﺍﻟﺴﻴﺮﺓ ﺍﻟﻤﺮﺿﻴﺔ ، ﻭﺍﻟﺴﺒﻞ ﺍﻟﺴﻮﻳﺔ ، ﻭﺍﻟﺤﺠﺞ ﺍﻟﺒﺎﻟﻐﺔ ﺍﻟﻘﻮﻳﺔ ، ﻗﺪ ﻭﻓﻘﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺟﻞ ﺟﻼﻟﻪ ﻹﺗﺒﺎﻉ ﻛﺘﺎﺑﻪ ، ﻭﻭﺣﻴﻪ ﻭﺧﻄﺎﺑﻪ ]ﻭﺍﺗﺒﺎﻉ ﺃﻗﺮﺏ ﺃﻭﻟﻴﺎﺋﻪ[ ، ﻭﺍﻻﻗﺘﺪﺍﺀ ﺑﺮﺳﻮﻟﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻓﻲ ﺃﺧﺒﺎﺭﻩ ، ﺍﻟﺘﻲ ﺃﻣﺮ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﻣﺘﻪ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ، ﻭﺯﺟﺮﻫﻢ ﻓﻴﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻣﻨﻬﺎ ، ﻭﺃﻋﺎﻧﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻤﺴﻚ ﺑﺴﻴﺮﺗﻪ ، ﻭﺍﻻﻫﺘﺪﺍﺀ ﺑﻤﻼﺯﻣﺔ ﺳﻨﺘﻪ ، ]ﻭﺟﻌﻠﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﺗﺒﺎﻉ ﺃﻗﺮﺏ ﺃﻭﻟﻴﺎﺋﻪ - ﻭﺃﻛﺮﻣﻬﻢ ﻭﺃﻋﺰﻫﻢ ﻋﻠﻴﻪ[ ﻭﺷﺮﺡ ﺻﺪﻭﺭﻫﻢ ﻟﻤﺤﺒﺘﻪ ، ﻭﻣﺤﺒﺔ ﺃﺋﻤﺔ ﺷﺮﻳﻌﺘﻪ ، ﻭﻋﻠﻤﺎﺀ ﺃﻣﺘﻪ . ﻭﻣﻦ ﺃﺣﺐ ﻗﻮﻣﺎً ﻓﻬﻮ ﻣﻨﻬﻢ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻳﺤﻜﻢ ]ﻗﻮﻝ[ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) : - ﺍﻟﻤﺮﺀ ﻣﻊ ﻣﻦ ﺃﺣﺐ ... ( 170 – Demikian pula dengan Mubtadi’ (Ahli Bid’ah) – semoga Allah tidak menolong mereka – membagi-bagi perkataan kepada para pembawa khabar (hadits), penukil atsar, perawi hadits yang mengikuti sunnah- sunnah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam [yang dikenal dengan nama Ashhaabul- Hadiits]. Sebagian Ahli Bid’ah menamakan mereka dengan Hasyawiyyah, sebagian lagi dengan Musyabbihah, sebagian lagi dengan Naabitah, sebagian lagi dengan Naashibah, dan sebagian lagi dengan Jabriyyah.

Padahal Ashhaabul-Hadiits terbebas, berlepas diri, dan bersih dari segala macam aib/ cela ini. Tidak ada sebutan bagi mereka kecuali pengikut sunnah yang terang, perjalanan yang diridlai, jalan kehidupan yang lurus, dan hujjah yang terang lagi kuat. Sungguh Allah jalla jalaaluhu telah menguatkan mereka untuk mengikuti (ittiba’) Kitab-Nya, wahyu-Nya, dan firman-Nya; [mengikuti jejak para wali-Nya], meneladani Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap khabar beliau sebagaimana diketahui bahwa hal itu beliau perintahkan kepada umatnya dalam perkataan maupun perbuatan, serta mencegah mereka untuk berbuat kemunkaran. Allah juga menolong mereka untuk dapat berpegang teguh pada perjalanan hidup beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, meneladani dan konsekuen pada sunnah-sunnah beliau. [Dan Allah pun menjadikan siapa saja yang mengikuti syari’at-Nya sebagai wali-wali- Nya yang paling dekat - yang paling mulia dan terhormat]. Allah juga melapangkan dada mereka untuk mencintai beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para imam/pemimpin syari’at- Nya, dan para ulama umat. Barangsiapa yang mencintai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka di hari kiamat kelak, dengan dasar [sabda] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Seseorang itu bersama orang yang ia cintai’ “. [Selesai].

Bahan bacaan :
1. ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil- Hadiits oleh Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy, hal. 116-120, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 2/1415 H, Madinah].
2. Syarh ‘Aqiidatis-Salaf wa Ashhaabil-Hadiits li-Abi ‘Utsman Ash-Shaabuniy oleh Dr. Khaalid bin ‘Aliy Al- Musyaiqih - www.Almoshaiqeh.com.
3. Aqidah Salaf Ashabul-Hadits, terjemah oleh : Abu Umar Basyir Al-Maidani, hal. 184-194; Pustaka At- Tibyan, Solo].

[Ditulis oleh Abu Al-Jauzaa’ Al- Jawiy – pekan pertama bulan Rajab 1430 H].

Template by:
Free Blog Templates