Assalamu'alaikum Wr Wb
Pak ustadz, kita ketahui bahwa kehidupan kita ini sudah ada taqdirnya. Bahkan saya pernah baca hadits yang kurang lebih bunyinya, ‘pena telah diangkat’ yang artinya semua taqdir makhluk telah selesai dituliskan. Apakah taqdir bisa dirubah atau tidak?Jika tidak bisa, lalu apa gunanya kita berdoa meminta rezeki, panjang umur dll. Kan semuanya sudah diputuskan alias sudah ‘ketuk palu’ ? Burhan - Sangatta
Jawaban:
Penggalan kalimat yang antum maksudkan itu bersumber dari sebuah hadits berikut ini : ﺍﺣْﻔَﻆِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺤْﻔَﻈْﻚَ، ﺍﺣْﻔَﻆِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﺠِﺪْﻩُ ﺗُﺠَﺎﻫَﻚَ، ﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟْﺖَ ﻓَﺎﺳْﺄَﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪَ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺍﺳْﺘَﻌَﻨْﺖَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ، ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻷُﻣَّﺔَ ﻟَﻮْ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻮﻙَ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻮﻙَ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻗَﺪْ ﻛَﺘَﺒَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻚَ، ﻭَﻟَﻮْ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻀُﺮُّﻭﻙَ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻀُﺮُّﻭﻙَ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻗَﺪْ ﻛَﺘَﺒَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ، ﺭُﻓِﻌَﺖِ ﺍﻷَﻗْﻠَﺎﻡُ ﻭَﺟَﻔَّﺖْ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒُ “Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah, sesungguhnya seandainya umat ini bersatu untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberinya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.
Dan seandainya mereka bersatu untuk mendatangkan suatu kemudharatan kepadamu, maka mereka tidak dapat mendatangkannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.” (HR. Tirmidzi dan lainnya)
[1] Selain hadits diatas, masih banyak dalil-dalil agama berupa ayat dan hadits yang terkait masalah ini. Yang tentunya, kesemuanya harus dihubungkan satu sama lain untuk mendapatkan satu pemahaman yang utuh tentang masalah takdir. Berikut ini diantara ayat dan haditsnya : Firman-Nya : ﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺏَ ﻣِﻦْ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻟَﺎ ﻓِﻲ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞِ ﺃَﻥْ ﻧَﺒْﺮَﺃَﻫَﺎ ﺇِﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺴِﻴﺮٌ “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di Bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (QS Al Hadid 22) ﺇِﻥَّ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻳُﺠْﻤَﻊُ ﺧَﻠْﻘُﻪُ ﻓِﻲ ﺑَﻄْﻦِ ﺃُﻣِّﻪِ ﺃَﺭْﺑَﻌِﻴﻦَ ﻳَﻮْﻣًﺎ، ﺛُﻢَّ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻋَﻠَﻘَﺔً ﻣِﺜْﻞَ ﺫَﻟِﻚَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻣُﻀْﻐَﺔً ﻣِﺜْﻞَ ﺫَﻟِﻚَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺒْﻌَﺚُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﻠَﻜًﺎ ﻓَﻴُﺆْﻣَﺮُ ﺑِﺄَﺭْﺑَﻊِ ﻛَﻠِﻤَﺎﺕٍ، ﻭَﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻪُ: ﺍﻛْﺘُﺐْ ﻋَﻤَﻠَﻪُ، ﻭَﺭِﺯْﻗَﻪُ، ﻭَﺃَﺟَﻠَﻪُ، ﻭَﺷَﻘِﻲٌّ ﺃَﻭْ ﺳَﻌِﻴﺪٌ Rasulullah y bersabda : “Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan ciptaannya dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa nutfah (air mani yang kental), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu, kemudian diutus kepadanya malaikat untuk meniupkannya ruh, dan dia diperintahkan mencatat empat kata yang telah ditentukan: rezekinya, ajalnya, amalnya, kesulitan atau kebahagiannya.
[2] Ulama berbeda pendapat apakah takdir bisa dirubah secara keseluruhan atau tidak. Sebagian mengatakan bahwa takdir bisa dirubah kecuali taqdir ajal, ketetapan ahlu syurga dan neraka. Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa semua taqdir bisa dirubah. Jumhur ulama berpendapat mengenai bisa dirubahnya sebagian Taqdir Menurut mereka, hadits yang menyatakan bahwa rezeki, ajal, amal, susah dan senangnya dipandang sebagai dalil umum. Namun, dalil mutlak (umum) ini harus dibawa dan diikat oleh dalil lain yang membatasinya. Istilahnya Hamlul muthlaq ilal muqayyad (membawa dalil yang masih umum kepada dalil yang membatasinya).
Syariat memang menginformasikan bahwa ajal dan rezeki adalah sudah ada ketentuannya, ini informasi umum, namun syariat juga menginformasikan bahwa ada faktor yang menyebabkan umur manusia bisa menjadi panjang sesuai izin dan kehendakNya, inilah informasi yang mengecualikan dan membatasinya. Sehingga dengan memahaminya seperti ini, kita tidak memandang adanya pertentangan antara hadits yang menyebut bahwa ajal dan rezeki sudah ada ketentuannya, dengan hadits yang menyebut umur dan rezeki bisa bertambah dengan silaturahim, atau kebaikan lainnya. Dipanjangkan atau tidak, sudah Allah Ta’ala tetapkan sesuai iradahNya. Yang menjadi pembatas keumumannya adalah informasi syara’ bahwa dalam beberapa kondisi taqdir bisa dirubah, diantaranya sabda Rasulullah y sendiri menegaskan: “Tidaklah ketetapan Allah dapat ditolak kecuali dengan doa, dan tidaklah menambahkan usia kecuali berbuat kebaikan.” (Hadits shahih riwayat Tirmidzi) Dan Nabi y pun mengajarkan sebuah doa yang secara tersirat isi doa tersebut meminta dirubahnya takdir, yaitu : ﻻَ ﻳَﺘَﻤَﻨَّﻴَﻦَّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢُ ﺍﻟﻤَﻮْﺕَ ﻣِﻦْ ﺿُﺮٍّ ﺃَﺻَﺎﺑَﻪُ، ﻓَﺈِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻻَ ﺑُﺪَّ ﻓَﺎﻋِﻠًﺎ، ﻓَﻠْﻴَﻘُﻞْ: ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﺣْﻴِﻨِﻲ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟﺤَﻴَﺎﺓُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟِﻲ، ﻭَﺗَﻮَﻓَّﻨِﻲ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟﻮَﻓَﺎﺓُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟِﻲ “Janganlah kalian mengharapkan kematian lantaran buruknya musibah yang menimpa, sekali pun ingin melakukannya, maka berdoalah: Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu adalah baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika memang wafat itu baik bagiku).”
[3] Dan masalah bisa dirubahnya sebagian takdir ini juga isyaratkan Allah l dalam firmanNya: ﻳَﻤْﺤُﻮ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻳُﺜْﺒِﺖُ ﻭَﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺃُﻡُّ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul- Kitab (Lauh mahfuzh).” (QS. Ar Ra’du : 39) Meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai penafsiran tentang ayat diatas.
[4] Disebutkan dalam hadits Jabir dalam Shahih Muslim, ketika Suraqah bin Malik bin Ju’syum datang kepada Nabi y lalu mengatakan, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepada kami tentang agama kami, seolah-olah kami baru diciptakan pada hari ini, yaitu mengenai amal perbuatan hari ini, apakah berdasarkan pada apa yang telah tertulis oleh tinta pena (takdir) yang sudah mengering dan takdir-takdir yang telah ditentukan, atau berdasarkan dengan apa yang akan kita hadapi?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan berdasarkan pada tinta pena yang telah kering dan takdir-takdir yang telah ada.” Ia bertanya, “Lalu, untuk apa kita beramal?” Beliau menjawab : “Beramallah! Sebab semuanya telah dimudahkan.” Dalam sebuah riwayat disebutkan : “Setiap orang yang berbuat telah dimudahkan untuk perbuatan- nya.” (HR. Muslim) Khatimah Sebenarnya tidak ada pentingnya mengkaji masalah ini terlalu dalam, termasuk pada tingkat mengetahui apakah taqdir itu bisa dirubah atau tidak. Yang terpenting adalah keimanan kita kepada taqdir. Kita ini hanya diperintahkan oleh syariat untuk mengimani adanya qada’ dan Qadar Allah ta’ala. Disamping adanya perintah agar kita menyempurnakan ikhtiar dan berdoa. Pembahasan yang terlalu dalam masalah ini telah memunculkan dua golongan ekstrim, satu golongan yang menolak taqdir (Qadariyah dan mu’tazilah), satu lagi golongan yang selalu menggantung- gantungkan kepada taqdir (jabariyah). Sudah bisa ditebak – karena sebab kesalahan pemahaman mereka dalam masalah taqdir ini- menimbulkan akibat yang sangat fatal. Satu golongan menjadi kelompok yang congkak, yang seakan- akan tidak ada campur tangan Allah dalam kehidupannnya. Sedangkan kelompok yang lain (jabariyah), meninggalkan usaha dan kewajiban syariat dengan ‘mengkambing hitamkan’ taqdir.
[5] Padahal pemahaman yang benar dari sebuah konsep agama, tentu yang akan lahir adalah hal yang positif, termasuk dalam masalah taqdir ini. Pemahaman yang benar, tentu tidak akan membuat kedua hal yakni taqdir dan kasabt saling bertabrakan. Kemampuan manusia yang terwujud dalam doa dan kasab (usaha) yang terbatas, tentu tetap dalam ilmu Allah yang tidak terbatas. Jadi yang satu meliputi yang lain, bukan saling menafikan.
Wallahu’alam. Wallahu’alam.
Rabu, 07 Maret 2012
ALLAH S.W.T. MENOLAK 1 DOA DARI 3 DOA RASULULLAHS.A.W
Amir bin Said dari bapanya berkata bahawa : "Satu hari Rasulullah S.A.W telah datang dari daerah berbukit. Apabila Rasulullah S.A.W sampai di masjid Bani Mu'awiyah lalu beliau masuk ke dalam masjid dan menunaikan solat dua rakaat. Maka kami pun turut solat bersama dengan Rasulullah S.A.W.
Kemudian Rasulullah S.A.W berdoa dengan doa yang agak panjang kepada Allah S.W.T : Setelah selesai beliau berdoa maka Rasulullah S.A.W pun berpaling kepada kami lalu bersabda yang bermaksud : "Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T tiga perkara, dalam tiga perkara itu cuma dia memperkenankan dua perkara sahaja dan satu lagi ditolak.
1. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya ia tidak membinasakan umatku dengan musim susah yang berpanjangan. Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah S.W.T.
2. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi Nuh s.a). Permohonanku ini telah diperkenankan oleh Allah S.W.T.
3. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya umatku tidak dibinasakan kerana pergaduhan sesama mereka (peperangan, pertengkaran antara sesama Islam). Tetapi permohonanku telah tidak diperkenankan (telah ditolak).
Apa yang kita lihat hari ini ialah negara-negara Islam sendiri bertengkar antara satu sama lain, hari ini orang Islam bertengkar sesama sendiri, orang kafir menepuk tangan dari belakang, apakah ini baik untuk dilihat ?
Kemudian Rasulullah S.A.W berdoa dengan doa yang agak panjang kepada Allah S.W.T : Setelah selesai beliau berdoa maka Rasulullah S.A.W pun berpaling kepada kami lalu bersabda yang bermaksud : "Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T tiga perkara, dalam tiga perkara itu cuma dia memperkenankan dua perkara sahaja dan satu lagi ditolak.
1. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya ia tidak membinasakan umatku dengan musim susah yang berpanjangan. Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah S.W.T.
2. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi Nuh s.a). Permohonanku ini telah diperkenankan oleh Allah S.W.T.
3. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya umatku tidak dibinasakan kerana pergaduhan sesama mereka (peperangan, pertengkaran antara sesama Islam). Tetapi permohonanku telah tidak diperkenankan (telah ditolak).
Apa yang kita lihat hari ini ialah negara-negara Islam sendiri bertengkar antara satu sama lain, hari ini orang Islam bertengkar sesama sendiri, orang kafir menepuk tangan dari belakang, apakah ini baik untuk dilihat ?
Hakikat Cinta
Cinta adalah bagian dari fitrah, orang yang kehilangan cinta dia tidak normal tetapi banyak juga orang yang menderita karena cinta. Bersyukurlah orang-orang yang diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dengan tepat.
"Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik." (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14) Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli (HR. Abu Dawud dan Ahmad) Cinta memang sudah ada didalam diri kita, diantaranya terhadap lawan jenis. Tapi kalau tidak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita.
Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Allah cirinya adalah orang yang tidak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yang menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yang lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan, inilah yang paling berbahaya dari cinta yang tidak terkendali. Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus.
Cinta yang sejati adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja. Cara untuk bisa mengendalikan rasa cinta adalah jaga pandangan, jangan berkhalwat berdua-duaan, jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan. Bagi orang tua yang membolehkan anaknya berpacaran, harus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh nafsu, karena nafsu yang akan memperdayakan kita. Sepertinya cinta padahal nafsu belaka.
(My.Qolbu)
"Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik." (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14) Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli (HR. Abu Dawud dan Ahmad) Cinta memang sudah ada didalam diri kita, diantaranya terhadap lawan jenis. Tapi kalau tidak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita.
Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Allah cirinya adalah orang yang tidak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yang menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yang lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan, inilah yang paling berbahaya dari cinta yang tidak terkendali. Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus.
Cinta yang sejati adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja. Cara untuk bisa mengendalikan rasa cinta adalah jaga pandangan, jangan berkhalwat berdua-duaan, jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan. Bagi orang tua yang membolehkan anaknya berpacaran, harus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh nafsu, karena nafsu yang akan memperdayakan kita. Sepertinya cinta padahal nafsu belaka.
(My.Qolbu)
Mendamba Pemimpin Sejati
Jika dulu, para sahabat Radhiyallahu 'Anhu sangat takut untuk dipilih menjadi seorang pemimpin, maka sekarang, ada banyak orang berlomba-lomba menjadi pemimpin. Semua mengaku terbaik! Benar sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: "Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (HR. Al-Bukhari).
Memilih pemimpin bukanlah perkara sepele, sebab kandidat yang terpilih itulah yang akan membawa label pemimpin rakyat untuk membuat dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang menentukan nasib jutaan jiwa umat. Suka tidak suka, kandidat yang terpilih itulah yang kemudian akan menorehkan tinta sejarah di negeri ini. Meskipun torehan itu masih tanda tanya besar, apakah akan menjadi tinta emas yang senantiasa dikenang atau tinta hitam yang senantiasa diratapi. Mampukah ia menjadi pemimpin sejati, atau justru menjadi pemimpin yang menghianati amanat rakyat. Pemimpin merupakan lambang kekuatan, keutuhan, kedisiplinan dan persatuan. Namun harus kita sadari juga bahwa pemimpin bukanlah hanya sekadar lambang. Karena itu, ia memerlukan kompetensi, kelayakan dan aktivitas yang prima untuk memimpin bawahannya. Melihat esensi kepemimpinan, sebagai seorang Muslim, tentu tidak bisa sembarangan dalam memilih pemimpin. Jangan sampai perilaku “memilih kucing dalam karung” menghantui kita.
PERAN SEORANG PEMIMPIN
Menurut perspektif Islam ada dua peran yang dimainkan oleh seorang pemimpin:
1. Pelayan (khadim) Pemimpin adalah pelayan bagi pengikutnya. Seorang pemimpin yang dimuliakan orang lain, belum tentu hal tersebut sebagai tanda kemuliaan. Karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa berkhidmat dan menjadi pelayan bagi kaumnya. Seorang pemimpin sejati, mampu meningkatkan kemampuan dirinya untuk memuliakan orang-orang yang dipimpinnya. Dia menafkahkan lebih banyak, dia bekerja lebih keras, dia berpikir lebih kuat, lebih lama dan lebih mendalam dibanding orang yang dipimpinnya. Demikianlah pemimpin sejati yang dicontohkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Bukan sebaliknya, pemimpin yang selalu ingin dilayani, selalu ingin mendapatkan dan mengambil sesuatu dari orang- orang yang dipimpinnya.
2. Pemandu (muwajjih) Pemimpin adalah pemandu yang memberikan arahan pada pengikutnya untuk menunjukkan jalan yang terbaik agar selamat sampai di tujuan tentu saja itu baru tercapai dengan sempurna jika di bawah naungan syariat Islam.
KARAKTERISTIK PEMIMPIN DALAM ISLAM
Perlu disadari, dalam memilih pemimpin ada tanggung jawab yang akan dipikul di hadapan Allah terhadap pilihan kita. Di sinilah pentingnya seorang pemilih mengenal calon pemimpinnya. Agar bisa mengetahui kesesuaiannya dengan karakter pemimpin ideal yang diatur oleh Islam. Kalau ternyata sesuai, maka jangan sungkan memberikan suara.
Di antara karakteristik pemimpin dalam Islam, yaitu:
1. Jujur Pemimpin Islam haruslah jujur kepada dirinya sendiri dan pengikutnya. Seorang pemimpin yang jujur akan menjadi contoh terbaik. Pemimpin yang perkataan dengan perbuatannya senantiasa sejalan.
2. Kompeten Kompotensi dalam bidangnya mutlak dimiliki oleh seorang pemimpin Islam. Orang akan mengikuti seseorang jika ia benar-benar meyakini bahwa orang yang diikutinya benar- benar tahu apa yang sedang diperbuatnya.
3. Inspiratif Seorang pengikut akan merasakan 'aman' jika pemimpinnya membawanya pada rasa nyaman dan menimbulkan rasa optimis seburuk apa pun situasi yang sedang dihadapi.
4. Sabar Pemimpin Islam haruslah sabar dalam menghadapi segala macam persoalan dan keterbatasan, serta tidak bertindak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
5. Rendah hati Seorang pemimpin Islam hendaklah memiliki sikap rendah hati. Tidak suka menampakkan kelebihannya (riya) serta tidak merendahkan orang lain.
6. Musyawarah Dalam menghadapi setiap persoalan, seorang pemimpin Islam haruslah menempuh jalan musyawarah serta tidak menentukan keputusan sendiri. Asy-Syaikh Abdurrahman As- Sa'di—rahimahullah— mengatakan, "Jika Allah mengatakan kepada Rasul-Nya— padahal beliau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling banyak ilmunya dan paling banyak idenya, "Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu." (QS. Ali Imran: 159). Maka bagaimana dengan yang selain beliau?"
7. Mampu berkomunikasi dengan rakyatnya Kapasitas ilmiah serta empati dan rasa sensitivitas yang baik akan mereka yang dipimpinnya, pada akhirnya akan melahirkan seorang pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik kepada rakyatnya. Komunikasi yang baik kepada rakyatnya bukanlah sekadar kemampuan retorika yang baik, tetapi juga kemampuan memilih hal yang akan dilempar kepada publik serta timing yang tepat dalam melemparkannya.
Kematangan seorang pemimpin akan membuatnya mampu berkomunikasi yang jauh dari sikap emosional. Dan yang terpenting dari semua itu adalah sang pemimpin akhirnya mampu mengambil sebuah kebijakan yang tepat dalam sebuah kondisi yang memang dibutuhkan oleh rakyat yang dipimpinnya.
RAHASIA KEKUATAN PEMIMPIN
1. Kekuatan iman, ilmu, dan wawasan yang luas Seluruh nabi dan rasul memimpin dengan kekuatan iman dan ilmu. Nabi Sulaiman Alaihissalam memerintah hampir seluruh makhluk (seperti jin, binatang, angin) dengan ilmu dan keimanan yang kuat. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dapat menyelesaikan berbagai masalah dengan ilmu dan keimanan yang kuat. Dengan ilmu dan iman seorang pemimpin sanggup memimpin dirinya (seperti memimpin matanya, hatinya, lidahnya, pikiran dan hawa nafsunya) sebelum memimpin orang lain.
2. Ibadah dan taqarrub kepada Allah. Ibadah dan banyak bertaqarrub kepada Allah, dapat melahirkan kewibaan, ketawadhuan, kesabaran, optimisme, dan tawakkal. Ibadah dan taqarrub juga akan melahirkan kekuatan ruhaniyah yang dahsyat.
3. Keteladanan. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajak jihad, beliau bertempur paling depan, bersedekah paling ringan dan hidup paling bersahaja. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallammenyuruh bertahajud, beliaulah yang kakinya bengkak karena banyak bertahajjud. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menghimbau umatnya untuk berhias dengan akhlak mulia, beliaulah manusia yang paling mulia akhlaknya.
KARAKTERISTIK PENGIKUT DALAM ISLAM
1. Taat Seorang pengikut harus patuh kepada pemimpin. Setelah pemimpin dipilih lewat jalan musyawarah maka wajib bagi pengikutnya (yang menang dan yang kalah untuk taat kepadanya, kecuali sang pemimpin telah melanggar ketentuan Allah dan membuat kerusakan).
2. Dinamis dan kritis Seorang pengikut harus dinamis dan kritis dalam mengikuti kepemimpinan seseorang. Islam tidak mengajarkan suatu ketundukan buta atau sekadar ikut-ikutan.
PENUTUP
Bagi pemimpin dan calon pemimpin masa depan, amanah yang Anda emban bukanlah suatu kemegahan dan kebanggaan. Bahkan demi mengingat beratnya beban amanah, Khalifah Umar bin Khaththab memberikan sebuah ungkapan, "Saya sudah cukup senang jika dapat keluar dari dunia ini dengan impas; tidak mendapat dosa dan tidak pula mendapat pahala." Maka jadikanlah janji Allah memasukan pemimpin yang adil dalam surga-Nya sebagai sumber energi hidup Anda.
Dan bagi yang akan memberikan pilihan dan selanjutnya akan dipimpin, marilah kita sadari bahwa kesempatan kita hanya sekali untuk melakukan pilihan dengan tepat. Setelah itu, kemampuan kita dalam menentukan arah kepemimpinan tidak sekuat di saat kita memilih. Setidaknya, kita telah berusaha melakukannya. Dan yang pasti, pilihan kita akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhaanahu Wata'ala. Karena itu, akan senantiasa dibutuhkan seorang Muslim yang mampu menentukan pilihannya secara cerdas dan tepat.
Wallahu Waliyyut Taufiq
Dari berbagai sumber (Al Fikrah No.11 Tahun X/08 Rabiul Akhir 1430 H) - www.wahdah.or.id artikel dari http:// mohamadrofiul.blogspot.com/ search/label/Artikel%20Islam
Memilih pemimpin bukanlah perkara sepele, sebab kandidat yang terpilih itulah yang akan membawa label pemimpin rakyat untuk membuat dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang menentukan nasib jutaan jiwa umat. Suka tidak suka, kandidat yang terpilih itulah yang kemudian akan menorehkan tinta sejarah di negeri ini. Meskipun torehan itu masih tanda tanya besar, apakah akan menjadi tinta emas yang senantiasa dikenang atau tinta hitam yang senantiasa diratapi. Mampukah ia menjadi pemimpin sejati, atau justru menjadi pemimpin yang menghianati amanat rakyat. Pemimpin merupakan lambang kekuatan, keutuhan, kedisiplinan dan persatuan. Namun harus kita sadari juga bahwa pemimpin bukanlah hanya sekadar lambang. Karena itu, ia memerlukan kompetensi, kelayakan dan aktivitas yang prima untuk memimpin bawahannya. Melihat esensi kepemimpinan, sebagai seorang Muslim, tentu tidak bisa sembarangan dalam memilih pemimpin. Jangan sampai perilaku “memilih kucing dalam karung” menghantui kita.
PERAN SEORANG PEMIMPIN
Menurut perspektif Islam ada dua peran yang dimainkan oleh seorang pemimpin:
1. Pelayan (khadim) Pemimpin adalah pelayan bagi pengikutnya. Seorang pemimpin yang dimuliakan orang lain, belum tentu hal tersebut sebagai tanda kemuliaan. Karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa berkhidmat dan menjadi pelayan bagi kaumnya. Seorang pemimpin sejati, mampu meningkatkan kemampuan dirinya untuk memuliakan orang-orang yang dipimpinnya. Dia menafkahkan lebih banyak, dia bekerja lebih keras, dia berpikir lebih kuat, lebih lama dan lebih mendalam dibanding orang yang dipimpinnya. Demikianlah pemimpin sejati yang dicontohkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Bukan sebaliknya, pemimpin yang selalu ingin dilayani, selalu ingin mendapatkan dan mengambil sesuatu dari orang- orang yang dipimpinnya.
2. Pemandu (muwajjih) Pemimpin adalah pemandu yang memberikan arahan pada pengikutnya untuk menunjukkan jalan yang terbaik agar selamat sampai di tujuan tentu saja itu baru tercapai dengan sempurna jika di bawah naungan syariat Islam.
KARAKTERISTIK PEMIMPIN DALAM ISLAM
Perlu disadari, dalam memilih pemimpin ada tanggung jawab yang akan dipikul di hadapan Allah terhadap pilihan kita. Di sinilah pentingnya seorang pemilih mengenal calon pemimpinnya. Agar bisa mengetahui kesesuaiannya dengan karakter pemimpin ideal yang diatur oleh Islam. Kalau ternyata sesuai, maka jangan sungkan memberikan suara.
Di antara karakteristik pemimpin dalam Islam, yaitu:
1. Jujur Pemimpin Islam haruslah jujur kepada dirinya sendiri dan pengikutnya. Seorang pemimpin yang jujur akan menjadi contoh terbaik. Pemimpin yang perkataan dengan perbuatannya senantiasa sejalan.
2. Kompeten Kompotensi dalam bidangnya mutlak dimiliki oleh seorang pemimpin Islam. Orang akan mengikuti seseorang jika ia benar-benar meyakini bahwa orang yang diikutinya benar- benar tahu apa yang sedang diperbuatnya.
3. Inspiratif Seorang pengikut akan merasakan 'aman' jika pemimpinnya membawanya pada rasa nyaman dan menimbulkan rasa optimis seburuk apa pun situasi yang sedang dihadapi.
4. Sabar Pemimpin Islam haruslah sabar dalam menghadapi segala macam persoalan dan keterbatasan, serta tidak bertindak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
5. Rendah hati Seorang pemimpin Islam hendaklah memiliki sikap rendah hati. Tidak suka menampakkan kelebihannya (riya) serta tidak merendahkan orang lain.
6. Musyawarah Dalam menghadapi setiap persoalan, seorang pemimpin Islam haruslah menempuh jalan musyawarah serta tidak menentukan keputusan sendiri. Asy-Syaikh Abdurrahman As- Sa'di—rahimahullah— mengatakan, "Jika Allah mengatakan kepada Rasul-Nya— padahal beliau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling banyak ilmunya dan paling banyak idenya, "Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu." (QS. Ali Imran: 159). Maka bagaimana dengan yang selain beliau?"
7. Mampu berkomunikasi dengan rakyatnya Kapasitas ilmiah serta empati dan rasa sensitivitas yang baik akan mereka yang dipimpinnya, pada akhirnya akan melahirkan seorang pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik kepada rakyatnya. Komunikasi yang baik kepada rakyatnya bukanlah sekadar kemampuan retorika yang baik, tetapi juga kemampuan memilih hal yang akan dilempar kepada publik serta timing yang tepat dalam melemparkannya.
Kematangan seorang pemimpin akan membuatnya mampu berkomunikasi yang jauh dari sikap emosional. Dan yang terpenting dari semua itu adalah sang pemimpin akhirnya mampu mengambil sebuah kebijakan yang tepat dalam sebuah kondisi yang memang dibutuhkan oleh rakyat yang dipimpinnya.
RAHASIA KEKUATAN PEMIMPIN
1. Kekuatan iman, ilmu, dan wawasan yang luas Seluruh nabi dan rasul memimpin dengan kekuatan iman dan ilmu. Nabi Sulaiman Alaihissalam memerintah hampir seluruh makhluk (seperti jin, binatang, angin) dengan ilmu dan keimanan yang kuat. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dapat menyelesaikan berbagai masalah dengan ilmu dan keimanan yang kuat. Dengan ilmu dan iman seorang pemimpin sanggup memimpin dirinya (seperti memimpin matanya, hatinya, lidahnya, pikiran dan hawa nafsunya) sebelum memimpin orang lain.
2. Ibadah dan taqarrub kepada Allah. Ibadah dan banyak bertaqarrub kepada Allah, dapat melahirkan kewibaan, ketawadhuan, kesabaran, optimisme, dan tawakkal. Ibadah dan taqarrub juga akan melahirkan kekuatan ruhaniyah yang dahsyat.
3. Keteladanan. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajak jihad, beliau bertempur paling depan, bersedekah paling ringan dan hidup paling bersahaja. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallammenyuruh bertahajud, beliaulah yang kakinya bengkak karena banyak bertahajjud. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menghimbau umatnya untuk berhias dengan akhlak mulia, beliaulah manusia yang paling mulia akhlaknya.
KARAKTERISTIK PENGIKUT DALAM ISLAM
1. Taat Seorang pengikut harus patuh kepada pemimpin. Setelah pemimpin dipilih lewat jalan musyawarah maka wajib bagi pengikutnya (yang menang dan yang kalah untuk taat kepadanya, kecuali sang pemimpin telah melanggar ketentuan Allah dan membuat kerusakan).
2. Dinamis dan kritis Seorang pengikut harus dinamis dan kritis dalam mengikuti kepemimpinan seseorang. Islam tidak mengajarkan suatu ketundukan buta atau sekadar ikut-ikutan.
PENUTUP
Bagi pemimpin dan calon pemimpin masa depan, amanah yang Anda emban bukanlah suatu kemegahan dan kebanggaan. Bahkan demi mengingat beratnya beban amanah, Khalifah Umar bin Khaththab memberikan sebuah ungkapan, "Saya sudah cukup senang jika dapat keluar dari dunia ini dengan impas; tidak mendapat dosa dan tidak pula mendapat pahala." Maka jadikanlah janji Allah memasukan pemimpin yang adil dalam surga-Nya sebagai sumber energi hidup Anda.
Dan bagi yang akan memberikan pilihan dan selanjutnya akan dipimpin, marilah kita sadari bahwa kesempatan kita hanya sekali untuk melakukan pilihan dengan tepat. Setelah itu, kemampuan kita dalam menentukan arah kepemimpinan tidak sekuat di saat kita memilih. Setidaknya, kita telah berusaha melakukannya. Dan yang pasti, pilihan kita akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhaanahu Wata'ala. Karena itu, akan senantiasa dibutuhkan seorang Muslim yang mampu menentukan pilihannya secara cerdas dan tepat.
Wallahu Waliyyut Taufiq
Dari berbagai sumber (Al Fikrah No.11 Tahun X/08 Rabiul Akhir 1430 H) - www.wahdah.or.id artikel dari http:// mohamadrofiul.blogspot.com/ search/label/Artikel%20Islam
Macam-macam Ilmu
1. Ilmu-ilmu syari’at, yaitu ilmu- ilmu yang dibawa oleh syari’at Islam dan yang diperintahkan untuk mengetahuinya serta mempelajarinya untuk diaplikasikan dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan etika (landasan moral). Hal ini dilakukan agar kepribadian manusia dapat mencapai kesempurnaan dengan bekal teori dan praktik sehingga ia dapat menjadi orang yang suci dan bahagia.
2. Ilmu-ilmu alam (kosmologi), yaitu segala jenis ilmu yang berkaitan dengan materi (benda) alam. Yakni ilmu-ilmu yang membahas berbagai macam materi dan kekhususannya yang bersifat alami, sehingga materi- materi tersebut dapat dimanfaatkan
3. Al ‘Ulum Ar Riyadhiyah (ilmu- ilmu exact/pasti), yaitu ilmu-ilmu yang selalu menuntut akal (rasio), sehingga akal (rasio) selalu menjadi alat untuk berkarya dan berkreasi. Ilmu-ilmu yang diharamkan dengan ijma’ ulama Perlu diketahui, banyak sekali ilmu pengetahuan yang diciptakan manusia yang diharamkan secara mutlak kepada kaum muslimin, karena bahaya yang ditimbulkannya dan tidak ada manfaatnya bagi kebahagiaan hidup manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Di antara ilmu-ilmu yang diharamkan :
1. 1. As-Sihr (ilmu sihir). Menurut istilah kata as-sihr secara mutlak menunjukkan segala sesuatu yang dilakukan secara halus dan lembut, dan sebab-sebab yang menimbulkannya sangat tersembunyi. Dalam menaklukkan dan mengendalikan jiwa ini, maka cara dan sebab-sebab yang digunakan sangat berbeda sesuai dengan perbedaan suku, bangsa, zaman dan eranya. Semuanya itu dilakukan melalui ketaatan dan ketundukkan kepada syaithan dengan melakukan kerusakan dan kejahatan yang dibisikkannya (syaithan).
Firman Allah I: ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﻋَﻠِﻤُﻮﺍ ﻟَﻤَﻦِ ﺍﺷْﺘَﺮَﺍﻩُ ﻣَﺎﻟَﻪُ ﻓﻲِ ﺍْﻷَﺧِﺮَﺓِ ﻣِﻦْ ﺧَﻼَﻕٍ ﻭَﻟَﺒِﺌْﺲَ ﻣَﺎﺷَﺮَﻭْﺍ ﺑِﻪِ ﺃَﻧﻔُﺴَﻬُﻢْ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ 102} } Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:102) Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa sihir termasuk salah satu dosa besar yang membawa kepada kehancuran. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Bajalah bin Abdah, ia berkata: “Umar bin Khaththab e telah menetapkan perintah, yaitu: “Bunuhlah tukang sihir laki-laki atau perempuan”. Kata Bajalah selanjutnya: “Maka kamipun melaksanakan hukuman mati terhadap tiga tukang sihir.”
1.2 Ath-Thilasmat (Ilmu Mantera) Ath-Thilasmat kata jama’ dari kata thilasm. Kata ini diambil dari ucapan orang-orang yang mengatakan lailah thilasmah yang artinya malam yang sangat gelap. Selain itu thilasm juga berarti mantera dan jimat. Menurut istilah: ilmu yang digunakan untuk mengetahui bagaimana memadukan kekuatan yang tinggi yang dapat mempengaruhi dengan kekuatan yang rendah yang dapat dipengaruhi, sehingga terjadi suatu perbuatan yang aneh di alam dunia ini, melalui tulisan dan wafak yang sangat dikenal dikalangan orang-orang yang concert (memiliki perhatian khusus) terhadap ilmu semacam ini. Objek ilmu matera (jimat) ini adalah essense bintang-bintang, rahasia bilangan, karasteristik setiap benda, dan perjalanan bintang-bintang yang memiliki pengaruh terhadap benda-benda bumi. Dilihat dari segi kegunaannya dan hukumnya, maka ilmu ini sama sekali tidak memberi manfaat dan hukumnya sama dengan ilmu sihir, sehingga diharamkan untuk mempelajari dan menggunakannya.
1.3. Ar-Raml (IlmuRamal). Dari segi bahasa kata ar-raml berarti bagian dari bumi yang berbeda dengan tanah dari segi macamnya (pasir) Sedangkan menurut istilah berarti ilmu yang mempelajari cara-cara membuat gambar atau lukisan di atas pasir atau tanah yang lembek (lumpur), lalu menghapusnya dengan cara menghapus sebagian tulisan dan membiarkan sebagian tulisan yang lainnya dengan meletakkan benda dan menggunakan kode (mantera). Ilmu ini digunakan untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Ilmu ini termasuk ilmu perdukunan dan ilmu nujum (astrologi). Imam Muslim dalam shahih-nya meriwayatkan dari salah seorang istri Nabi e, beliau bersabda: ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻋَﺮَّﺍﻓًﺎ ﻓَﺴَﺄَﻟَﻪُ ﻋَﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﺼَﺪَّﻗَﻪُ ﻟَﻢْ ﺗُﻘْﺒَﻞْ ﻟَﻪُ ﺻَﻼَﺓٌ ﺃَﺭْﺑَﻌِﻴْﻦَ ﻳَﻮْﻣًﺎ “Barangsiapa mendatangi tukang ramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara dan dia mempercayainya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.”
1. 4. At-Tanjim (Astrologi) Menurut istilah, kata at-tanjim berarti ilmu yang berkaitan dengan benda-benda langit dan bintang-bintang untuk mengetahui kekuatan dan pengaruhnya terhadap benda- benda bumi sebagai petunjuk atas peristiwa yang akan terjadi di muka bumi, yaitu kejadian atau peristiwa yang berkaitan dengan manusia dan makhluk bumi lainnya. Pada hakekatnya at-tanjim tidak dikatagorikan sebagai sebuah ilmu. Ia lebih tepat dikatagorikan sebagai igauan yang membingungkan dan pemikiran sesat yang lahir dari orang-orang yang tidak mendapat petunjuk Allah I. Hukum mempelajari dan mengamalkan atau mempraktekkan ilmu nujum ini dikatagorikan sebagai perbuatan kufur, karena menisbahkan kejadian dan peristiwa alam seperti mati dan hidup, kemudharatan dan kemanfaatan dan lainnya kepada selain Allah I. ﻣَﻦْ ﺍﻗْﺘَﺒَﺲَ ﺷُﻌْﺒَﺔً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨُّﺠُﻮْﻡِ ﻓَﻘَﺪْ ﺍﻗْﺘَﺒَﺲَ ﺷُﻌْﺒَﺔً ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴِّﺤْﺮِ, ﺯَﺍﺩَ ﻣَﺎ ﺯَﺍﺩَ )ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺻﺤﻴﺢ ( “Barangsiapa mempelajari sebagian dari ilmu nujum, sesungguhnya ia telah mempelajari sebagian dari ilmu sihir. Semakin bertambah (ilmu yang dia pelajari) semakin bertambah pula (dosanya).” (HR: Abu Daud dan isnadnya shahih) 1. 5. Al Jafr (Ilmu Kode /Rumus). Kata Al Jafr berarti anak kambing atau unta yang masih kecil. Menurut istilah berarti sebuah ilmu untuk mengetahui rumus atau kode yang berdasarkan kepada huruf-huruf rahasia, dimana pelakunya menyangka bahwa dalam kode atau rumus itu terdapat petunjuk yang menunjukkan beberapa peristiwa yang akan terjadi sampai hari kiamat.
Berbeda dengan empat macam ilmu di atas yang tidak diketahui penemunya atau yang pertama kali membuatnya, ilmu ini diciptakan oleh Harun bin Said Al Lajali yang mengaku dirinya sebagai seorang tokoh aliran Syi’ah Zaidiyah. Hal ini didasarkan pada sebuah buku yang ditulisnya yang periwayatannya diklaim oleh dia berasal dari Ja’far Ash Shadiq, salah seorang imam dari kalangan ahlu Al Bait (keluarga Rasulullah e), dimana didalam buku itu dibahas suatu ilmu yang dapat mempredeksi kejadian yang akan menimpa ahlu al bait.
Dilihat dari segi manfaatnya, sebenarnya ilmu Al Jafr ini tidak memberikan manfaat apa-apa terhadap kaum muslimin. Bahkan ilmu ini merupakan sampah dan racun yang disebarkan oleh para pemikir dan tokoh zindik. Wallahu A’lam. Abu Syafi’i
Rujukan: -Ilmu dan Ulama (terjemahan), Abu Bakar Jabir Al Jazairi, hal.52-53 dan 113-119. - Kitab Tauhid (terjemahan), Syaikh Muhammad At Tamimi, hal. 128-138 dan 147.
[ http://www.aldakwah.org/ artikel-islam/aqidah/40-macam- macam-ilmu.html ]
2. Ilmu-ilmu alam (kosmologi), yaitu segala jenis ilmu yang berkaitan dengan materi (benda) alam. Yakni ilmu-ilmu yang membahas berbagai macam materi dan kekhususannya yang bersifat alami, sehingga materi- materi tersebut dapat dimanfaatkan
3. Al ‘Ulum Ar Riyadhiyah (ilmu- ilmu exact/pasti), yaitu ilmu-ilmu yang selalu menuntut akal (rasio), sehingga akal (rasio) selalu menjadi alat untuk berkarya dan berkreasi. Ilmu-ilmu yang diharamkan dengan ijma’ ulama Perlu diketahui, banyak sekali ilmu pengetahuan yang diciptakan manusia yang diharamkan secara mutlak kepada kaum muslimin, karena bahaya yang ditimbulkannya dan tidak ada manfaatnya bagi kebahagiaan hidup manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Di antara ilmu-ilmu yang diharamkan :
1. 1. As-Sihr (ilmu sihir). Menurut istilah kata as-sihr secara mutlak menunjukkan segala sesuatu yang dilakukan secara halus dan lembut, dan sebab-sebab yang menimbulkannya sangat tersembunyi. Dalam menaklukkan dan mengendalikan jiwa ini, maka cara dan sebab-sebab yang digunakan sangat berbeda sesuai dengan perbedaan suku, bangsa, zaman dan eranya. Semuanya itu dilakukan melalui ketaatan dan ketundukkan kepada syaithan dengan melakukan kerusakan dan kejahatan yang dibisikkannya (syaithan).
Firman Allah I: ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﻋَﻠِﻤُﻮﺍ ﻟَﻤَﻦِ ﺍﺷْﺘَﺮَﺍﻩُ ﻣَﺎﻟَﻪُ ﻓﻲِ ﺍْﻷَﺧِﺮَﺓِ ﻣِﻦْ ﺧَﻼَﻕٍ ﻭَﻟَﺒِﺌْﺲَ ﻣَﺎﺷَﺮَﻭْﺍ ﺑِﻪِ ﺃَﻧﻔُﺴَﻬُﻢْ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ 102} } Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:102) Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa sihir termasuk salah satu dosa besar yang membawa kepada kehancuran. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Bajalah bin Abdah, ia berkata: “Umar bin Khaththab e telah menetapkan perintah, yaitu: “Bunuhlah tukang sihir laki-laki atau perempuan”. Kata Bajalah selanjutnya: “Maka kamipun melaksanakan hukuman mati terhadap tiga tukang sihir.”
1.2 Ath-Thilasmat (Ilmu Mantera) Ath-Thilasmat kata jama’ dari kata thilasm. Kata ini diambil dari ucapan orang-orang yang mengatakan lailah thilasmah yang artinya malam yang sangat gelap. Selain itu thilasm juga berarti mantera dan jimat. Menurut istilah: ilmu yang digunakan untuk mengetahui bagaimana memadukan kekuatan yang tinggi yang dapat mempengaruhi dengan kekuatan yang rendah yang dapat dipengaruhi, sehingga terjadi suatu perbuatan yang aneh di alam dunia ini, melalui tulisan dan wafak yang sangat dikenal dikalangan orang-orang yang concert (memiliki perhatian khusus) terhadap ilmu semacam ini. Objek ilmu matera (jimat) ini adalah essense bintang-bintang, rahasia bilangan, karasteristik setiap benda, dan perjalanan bintang-bintang yang memiliki pengaruh terhadap benda-benda bumi. Dilihat dari segi kegunaannya dan hukumnya, maka ilmu ini sama sekali tidak memberi manfaat dan hukumnya sama dengan ilmu sihir, sehingga diharamkan untuk mempelajari dan menggunakannya.
1.3. Ar-Raml (IlmuRamal). Dari segi bahasa kata ar-raml berarti bagian dari bumi yang berbeda dengan tanah dari segi macamnya (pasir) Sedangkan menurut istilah berarti ilmu yang mempelajari cara-cara membuat gambar atau lukisan di atas pasir atau tanah yang lembek (lumpur), lalu menghapusnya dengan cara menghapus sebagian tulisan dan membiarkan sebagian tulisan yang lainnya dengan meletakkan benda dan menggunakan kode (mantera). Ilmu ini digunakan untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Ilmu ini termasuk ilmu perdukunan dan ilmu nujum (astrologi). Imam Muslim dalam shahih-nya meriwayatkan dari salah seorang istri Nabi e, beliau bersabda: ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻋَﺮَّﺍﻓًﺎ ﻓَﺴَﺄَﻟَﻪُ ﻋَﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﺼَﺪَّﻗَﻪُ ﻟَﻢْ ﺗُﻘْﺒَﻞْ ﻟَﻪُ ﺻَﻼَﺓٌ ﺃَﺭْﺑَﻌِﻴْﻦَ ﻳَﻮْﻣًﺎ “Barangsiapa mendatangi tukang ramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara dan dia mempercayainya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.”
1. 4. At-Tanjim (Astrologi) Menurut istilah, kata at-tanjim berarti ilmu yang berkaitan dengan benda-benda langit dan bintang-bintang untuk mengetahui kekuatan dan pengaruhnya terhadap benda- benda bumi sebagai petunjuk atas peristiwa yang akan terjadi di muka bumi, yaitu kejadian atau peristiwa yang berkaitan dengan manusia dan makhluk bumi lainnya. Pada hakekatnya at-tanjim tidak dikatagorikan sebagai sebuah ilmu. Ia lebih tepat dikatagorikan sebagai igauan yang membingungkan dan pemikiran sesat yang lahir dari orang-orang yang tidak mendapat petunjuk Allah I. Hukum mempelajari dan mengamalkan atau mempraktekkan ilmu nujum ini dikatagorikan sebagai perbuatan kufur, karena menisbahkan kejadian dan peristiwa alam seperti mati dan hidup, kemudharatan dan kemanfaatan dan lainnya kepada selain Allah I. ﻣَﻦْ ﺍﻗْﺘَﺒَﺲَ ﺷُﻌْﺒَﺔً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨُّﺠُﻮْﻡِ ﻓَﻘَﺪْ ﺍﻗْﺘَﺒَﺲَ ﺷُﻌْﺒَﺔً ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴِّﺤْﺮِ, ﺯَﺍﺩَ ﻣَﺎ ﺯَﺍﺩَ )ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺻﺤﻴﺢ ( “Barangsiapa mempelajari sebagian dari ilmu nujum, sesungguhnya ia telah mempelajari sebagian dari ilmu sihir. Semakin bertambah (ilmu yang dia pelajari) semakin bertambah pula (dosanya).” (HR: Abu Daud dan isnadnya shahih) 1. 5. Al Jafr (Ilmu Kode /Rumus). Kata Al Jafr berarti anak kambing atau unta yang masih kecil. Menurut istilah berarti sebuah ilmu untuk mengetahui rumus atau kode yang berdasarkan kepada huruf-huruf rahasia, dimana pelakunya menyangka bahwa dalam kode atau rumus itu terdapat petunjuk yang menunjukkan beberapa peristiwa yang akan terjadi sampai hari kiamat.
Berbeda dengan empat macam ilmu di atas yang tidak diketahui penemunya atau yang pertama kali membuatnya, ilmu ini diciptakan oleh Harun bin Said Al Lajali yang mengaku dirinya sebagai seorang tokoh aliran Syi’ah Zaidiyah. Hal ini didasarkan pada sebuah buku yang ditulisnya yang periwayatannya diklaim oleh dia berasal dari Ja’far Ash Shadiq, salah seorang imam dari kalangan ahlu Al Bait (keluarga Rasulullah e), dimana didalam buku itu dibahas suatu ilmu yang dapat mempredeksi kejadian yang akan menimpa ahlu al bait.
Dilihat dari segi manfaatnya, sebenarnya ilmu Al Jafr ini tidak memberikan manfaat apa-apa terhadap kaum muslimin. Bahkan ilmu ini merupakan sampah dan racun yang disebarkan oleh para pemikir dan tokoh zindik. Wallahu A’lam. Abu Syafi’i
Rujukan: -Ilmu dan Ulama (terjemahan), Abu Bakar Jabir Al Jazairi, hal.52-53 dan 113-119. - Kitab Tauhid (terjemahan), Syaikh Muhammad At Tamimi, hal. 128-138 dan 147.
[ http://www.aldakwah.org/ artikel-islam/aqidah/40-macam- macam-ilmu.html ]
Langganan:
Postingan (Atom)



