Ahmad Zain An Najah, MA
اتقوا فراسة المؤمن ، فإنه ينظر بنور الله
“ Hati- hatilah dengan firasat orang yang beriman, karena dia melihat dengan cahaya Allah “
( HR Tirmidzi dengan sanad lemah ,dalam Al Sunan, Kitab : Tafsir, Bab : Tafsir surat Al Hijr ( hadits 3127 )
Pengertian Firasat
Firasat , kalau kita kaji dengan teliti, ternyata terdapat di dalam ajaran Islam. Dalilnya, selain hadits di atas, adalah beberapa ayat Al Qur’an yang menyentuh masalah firasat tersebut, diantaranya adalah firman Allah:
إن في ذلك لآيات للمتوسمين
“ Sesungguhnya pada peristiwa itu terdapat tanda- tanda bagi orang – orang yang “ Al Mutawassimin “ ( QS Al Hijr : 75 )
Al Mutawasimin menurut pengertian ulama adalah orang-orang yang mempunyai firasat, yaitu mereka yang mampu mengetahui suatu hal dengan mempelajari tanda-tandanya.
Sebagaimana firman Allah :
ولو نشاء لأريناكهم فلعرفتهم بسيماهم
“ Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu, sehingga kamu benar- benar mengetahui mereka dengan tanda- tandanya “ ( Qs Muhammad : 30 )
Allah juga berfirman :
يحسبهم الجاهل أغنياء من التعفف تعرفهم بسيماهم
“ Orang – orang yang bodoh menyangka mereka adalah orang kaya, karena mereka memelihara diri dari meminta- minta , kamu mengetahui mereka dengan tanda- tandanya “ ( QS Al Baqarah : 273 )
Walaupun hadits di atas sanadya lemah, namun makna dan artinya tidak bertentangan dengan ajaran Islam . Banyak hal yang membuktikan bahwa orang yang beriman mampu memandang sesuatu dengan tepat dan akurat. Karena Allah memberikan kekuatan kepada orang yang beriman kepada-Nya , yang mana hal itu tidak diberikan kepada orang lain.
Kekuatan yang diberikan Allah tersebut, tidak hanya terbatas kepada cara memandang, melihat, memutuskan suatu perkara ataupun mencarikan jalan keluar. Akan tetapi, kekuatan tersebut mencakup seluruh aspek kehidupan ini. Orang yang beriman mempunyai kelebihan kekuatan dalam bersabar menghadapi ujian dan cobaan, karena dia yakin bahwa hanya Allah-lah yang mampu menyelamatkan dan memberikan jalan keluar dari ujian tersebut, sekaligus berharap dari ujian tersebut, bahwa dia akan mendapatkan pahala di sisi-Nya dan akan menambah ketinggian derajatnya di akherat kelak. Apalagi tatkala dia mendengar hadits yang menyatakan :
“ Jika Allah mencintai hamban-Nya , niscaya Dia akan mengujinya “,
tentunya , dia akan bertambah sabar , tabah dan tegar.
Di dalam peperangan, orang yang berimanpun mempunyai stamina dan keberanian yang lebih, karena mati syahid adalah sesuatu yang didambakan. Mati mulia yang akan mengantarkannya kepada syurga nan abadi tanpa harus dihisab dahulu. Belum lagi nilai jihad yang begitu tinggi, yang merupakan “ puncak “ ajaran Islam, suatu amalan yang kadang, bisa menjadi wasilah ( sarana ) untuk menghapuskan dosa-dosanya, walaupun dosa tersebut begitu besar, seperti yang dialami oleh Ibnu Abi Balta’ah seorang sahabat yang terbukti berbuat salah, dengan membocorkan rahasia pasukan Islam yang mau menyerang Makkah. Ke-ikut sertaannya dalam perang Badar, ternyata mampu menyelamatkannya dari tajamnya pedang Umar ibnu Khottob.
Dalam bidang keilmuan, tentunya keimanan seseorang mempunyai peran yang sangat urgen di dalamnya. Masalah keilmuan ini ada kaitannya dengan masalah firasat, yang merupakan pembahasan kita kali ini. Allah berfirman :
واتقوا الله ويعلمكم الله
“ Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, dan Allah mengajarimu “ ( QS Al Baqarah : 282 )
Ayat di atas menunjukan bahwa barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarinya( memberikan ilmu kepadanya ).Kalau orang – orang awam sekarang menyebutnya dengan “ Ilmu Laduni “ , yaitu ilmu yang diberikan Allah kepada seseorang tanpa melalui proses belajar, yang wajar dilakukan orang. Hakekat Ilmu Laduni ini sudah kita terangkan pada pembahasan sebelumnya.
Di sana juga, terdapat hadits yang mendukung ayat di atas, yaitu hadits yang berbunyi :
“ Barang siapa yang mengajarkan Al Qur’an , niscaya Allah akan mengajarkan sesuatu yang belum ia ketahui “
Artinya : Mengajarkan Al Qur’an adalah salah satu dari kegiatan yang menambah ketaqwaan atau keimanan seseorang kepada Allah, sehingga dengan amalan tersebut Allah akan membalasnya dengan mengajarkan kepadanya sesuatu yang ia belum mengetahuinya.
Salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw pernah berkata : “ Seorang yang alim melihat fitnah ( kekacauan dan sejenisnya ) sebelum datang, sedang orang yang jahil melihat fitnah setelah terjadi “ . Maksudnya , bahwa orang yang alim ( tentunya disertai dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Alah ) mempunyai firasat atau pengetahuan akan sesuatu yang akan terjadi, sedang orang yang bodoh dan tidak bertaqwa kepada Allah , tidak mengetahuinya kecuali setelah peristiwa tersebut terjadi. Ini bukan berarti sang alim tadi mengetahui hal- hal yang ghoib dengan begitu saja, akan tetapi artinya bahwa dia mengetahuinya dengan tanda- tanda ( firasat ) yang telah diberikan Allah kepadanya, atau tanda-tanda tersebut telah disebutkan Allah di dalam kitab suci-Nya dan hadits nabi-Nya.
Beberapa Contoh Firasat yang benar
Sekedar contoh, bahwa seorang alim akan mengetahui runtuhnya suatu bangsa, atau terjadinya malapetaka mengerikan yang akan menimpa pada suatu tempat, dengan melihat tanda- tandanya, seperti menyebarnya perzinaan dengan cara yang terang-terangan, merebaknya perbuatan liwath atau homosex, semaraknya riba di bank- bank dan di pasar- pasar, serta perbuatan –perbuatan sejenis, yang kesemuanya itu akan mendatangkan murka Allah dan mengakibatkan turun adzab dari langit. Penyakit “ AIDS ” , yang sampai sekarang belum ada obatnya, merupakan bukti nyata akan statement di atas. Di tambah muncul wabah baru yang mengerikan dan pemburu nyawa yang ditakuti oleh semua orang, yaitu wabah “ SARS “ yang membuat kalang kabut negara- negara maju. Terakhir penyakit ini, malah menyerang tentara Amerika yang menjajah Irak.
Terpuruknya bangsa- bangsa yang ada adalah akibat jauhnya mereka dari ajaran Islam , termasuk di dalamnya negara Indonesia, yang terus – menerus mengumbar kemaksiatan, meraup harta- harta hasil korupsi dan menebar kejahatan riba serta memerangi Islam dengan terang- terangan. Dan sebentar lagi adalah negara Amerika Serikat yang sedang sekarat dan terpuruk dengan berbagai persoalan dalam dan luar negri . Negara ini konon telah memberikan lampu hijau bagi kaum homosex untuk mempraktekan kebejatannya, ini adalah salah satu indikasi bagi “Al-Mutawassimin “ ( orang – orang yang mempunyai firasat ) bahwa negara tersebut telah berada pada jurang kehancuran.
Allahpun sebenarnya telah memberikan contoh ilmu firasat ini dengan sangat jelas , sebagaimana yang tertera pada ( Q.S Al Hijr, ayat :75) diatas. Alur pembicaraan ayat tersebut, ternyata berkenaan dengan peristiwa atau kemaksiatan yang di lakukan oleh kaum Luth, suatu bangsa yang pertama kali mengajarkan “ homosex “ kepada manusia, sehingga di hukum oleh Allah dengan dibaliknya kota Soddom dan dihujani dengan batu- batu besar.
Sesungguhnya hal itu terdapat tanda- tanda bagi orang – orang yang mempunyai firasat.
Tanda- tanda ( firasat ) yang digunakan oleh seorang yang alim untuk mengetahui sebuah peristiwa, bukan hanya berupa “ fahisah “ ( kemaksiatan seperti zina dan sejenisnya ) saja, akan tetapi tanda-tanda itu bisa juga berupa penyelewengan dari manhaj Al Quran secara umum dan penyelewengan dari disiplin ilmu yang benar, walaupun kadang, penyelewengan tersebut dilakukan dengan tidak sengaja, seperti : tidak adanya amar ma’ruf dan nahi mungkar didalam suatu masyarakat, atau bahkan ada perbuatan amar ma’ruf dan nahi mungkar, tetapi tidak dilandasi dengan ilmu syar’I yang benar .Kita lihat umpamanya, Bani Israel mendapatkan laknat dan adzab dari Allah karena mereka meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.
Bahkan kesalahanan seorang pemimpin dalam berijtihadpun bisa dijadikan tanda bagi orang yang mempunyai firasat bahwa hal itu akan menyebabkan malapetaka. Inilah salah satu bentuk firasat yang dimiliki oleh Ibnu Umar ra, ketika melepas Husein bin Ali ra – walaupun dengan sangat berat hati – berangkat ke Iraq untuk memenuhi ajakan penduduk Iraq yang ingin membai’atnya jadi kholifah , beliau berkata kepada Husein bin Ali ra:
“ Saya menitipkanmu kepada Allah , wahai orang yang akan terbunuh “.
Firasat Ibnu Umar mengatakan bahwa Husein akan terbunuh dalam perjalanan menuju Iraq tersebut, ternyata menjadi kenyataan . Terjadilah peristiwa mengenaskan yang ditulis sejarah dengan lumuran darah , yaitu pembantaian terhadap Husein ra, cucu Rosulullah saw dan rombongannya di “ Karbela “ , yang akhirnya menimbulkan luka mendalam pada seluruh umat Islam bahkan menimbulkan fitnah yang berkepanjangan hingga hari ini.
Para sahabat lainnya juga mempunyai firasat yang benar, seperti yang dimiliki oleh Abu Musa Al Asy’ari ra, ketika melihat perselisihan antara Muawiyah dan Ali di dalam menentukan sikap terhadap para pembunuh kholifah Utsman bin Affan. Beliau melihat perselisihan tersebut sebagai bibit fitnah yang harus dijauhi, sehingga beliau dengan beberapa sahabat senior lainnya, seperti Sa’ad bin Abi Waqas, Ibnu Umar, Usamah bin Zaid, Abu Bakroh, Salamah bin Akwah, Abu Huroirah, Zaid bin Tsabit dan lainnya, menolak untuk ikut campur dalam peperangan antara kedua kelompok umat Islam tersebut. Dan sikap inilah yang lebih dibenarkan oleh beberapa ulama “ muhaqiqin “ dari dua kubu lainnya, yaitu kubu Ali bin Abi Tholib ra dan kubu Muawiyah ra. Walaupun mayoritas Ulama lebih membenarkan kubu Ali bin Abu Tholib ra, tetapi pendapat tersebut kurang kuat, karena ada riwayat yang menyatakan penyesalan Ali bin Tholib terhadap sikap yang beliau ambil di dalam menghadapi fitnah ini, yaitu setelah perang Siffin yang mengorbankan ribuan putra- putra terbaik umat Islam itu selesai.
Begitu juga firasat yang dirasakan oleh kholifah Utsman bin Affan ra, ketika seseorang datang menemuinya , beliau mengatakan :
“ Salah satu dari kalian menemuiku , sedang perbuatan zina nampak pada matanya “
Mendengar perkataan tersebut, spontas saja, yang hadir di situ mengatakan : “ apakah pernyataan tuan tersebut, merupakan wahyu dari Allah ? “ . Kholifah Utsman menjawab : “ Bukan, akan tetapi itu adalah firasat yang benar “ .
Juga, sebelum beliau meninggal dunia karena terbunuh, beliau merasakan bahwa ajalnya telah dekat dan dia akan mati terbunuh, maka beliau mengambil sikap untuk tidak mengadakan perlawanan ketika segerombalan orang masuk ke rumahnya, serta menolak bantuan yang di tawarkan oleh beberapa pengawal dan sahabatnya. Beliau ingin menghindari pertumpahan darah antara kaum muslimin, yang ujung-ujungnya, beliau jugalah yang akan menjadi korbannya.
Menentukan Hukum dengan Firasat
Bukan sampai di situ saja, firasatpun kadang bisa digunakan di dalam memutuskan suatu masalah. Yang perlu diingat kembali, maksud firasat di sini adalah firasat yang benar, yang merupakan tanda- tanda atau bukti- bukti yang hanya bisa diketahui oleh orang – orang tertentu dan tentunya bisa dicerna oleh akal sehat.
Salah contohnya, adalah apa yang dilakukan oleh nabi Allah Sulaiman as, ketika dua orang perempuan datang kepada nabi Daud as, untuk menyelesaikan perkara mereka berdua yang masing – masing mempunyai bayi, salah satu bayi dari keduanya dimakan srigala. Kedua- duanya mengaku bahwa bayi yang masih hidup adalah bayinya. Tidak ada satupun dari mereka mau mengalah dan ironisnya lagi, tidak ada tanda satupun untuk bisa dijadikan bukti dalam perkara tersebut. Setelah berpikir sejenak, nabi Daud as akhirnya memutuskan bahwa bayi tersebut milik perempuan yang lebih tua. Apa yang dijadikan dasar oleh nabi Daud as, sehingga mengambil keputusan tersebut ? Barangkali karena pertimbangan umur, atau karena Nabi Daud as sejak pertama kali melihat bahwa bayi tersebut selalu dalam dekapan ( gendongan ) perempuan yang tua. Keadaan seperti itu dijadikan Nabi Daud as, sebagai dasar pijakan untuk memutuskan bahwa anak tersebut milik perempuan yang mendekapnya. Dan teori ini dibenarkan di dalam Hukum Islam.
Namun, ketika kedua perempuan tersebut mendatangi Nabi Sulaiman as, dan menceritakan duduk perkaranya. Karena tidak ada bukti, Nabi Sulaiman as berpikir sejenak. Dan tanpa banyak bicara, beliau segera memerintahkan anak buahnya untuk mengambil pedang. Setelah pedang yang terhunus tersebut di tangan nabi Sulaiman as, beliau menyarankan agar salah satu dari dua perempuan tersebut untuk mengalah, sebelum pedang tersebut diayunkan ke tubuh bayi mungil, untuk kemudian dibagi menjadi dua bagian supaya adil. Sampai di situ, kedua perempuan tadi tidak bergeming dari pendiriannya masing-masing. Mereka mengira bahwa nabi Sulaiman tidak mungkin berbuat setega itu. Namun, ketika perempuan yang lebih muda melihat Nabi Sulaiman ra, serius dan tidak main- main dengan ancamannya, serta hendak mengayunkan pedangnya persis di tengah tubuh bayi tersebut, tiba- tiba dia berteriak : “ Jangan engkau laksanakan wahai nabi Allah Sulaiman, mudah- mudahan Allah memberikan rohmat kepadamu, saya nyatakan bahwa bahwa anak tersebut milik perempuan yang lebih tua dariku “. Mendengar teriakan tersebut, Nabi Sulaiman tersenyum dan tidak meneruskan rencananya tersebut. Kemudian memutuskan bahwa bayi tersebut adalah milik perempuan yang lebih muda.
Nabi Sulaiman dalam memutuskan perkara tersebut, telah menggunakan firasat dan ilmunya bahwa diamnya perempuan yang tua, dan menjeritnya perempuan yang lebih muda serta tidak sampai hatinya dia menyaksikan anak tersebut dibelah menjadi dua, merupakan bukti atau tanda yang sangat kuat bahwa anak tersebut milik perempuan muda . Bahkan bukti- bukti seperti itu, jauh lebih kuat dari pada sekedar pengakuan perempuan muda sendiri yang menyatakan bahwa anak tersebut bukan anaknya, tapi anak perempuan yang lebih tua. Peristiwa ini bisa dilihat di dalam buku Shohih Bukhori, Kitab ; tentang para nabi, no ( 3427) dan di Shohih Muslim, Kitab ; peradilan no ( 1720 ) Peristiwa tersebut sangat erat kaitannya dengan firman Allah :
وداود وسليمات إذ يحكمان في الحرث غذ نفشت فيه غنم القوم وكنا لحكمهم شاهدين ، ففهمناها سليمان وكلا آتيناه حكمة وعلما
“ Dan ingatlah kisah Daud dan Sulaiman, ketika mereka memberikan keputusan tentang tanaman, karena tanaman tersebut di rusak oleh kambing –kambing kaumnya , dan Kami adalah menyaksikan apa yang mereka putuskan. Adapun Sulaiman telah Kami berikan pengertian ( kepahaman ) terhadap hukum yang tepat, Dan masing- masing dari keduanya , Kami beri hikmah dan ilmu … “ (QS Al Anbiya’ 78-79 )
Dari ayat di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa menentukan putusan dalam peradilan dengan tanda- tanda seperti itu, merupakan bagian dari “ al fahmu “ ( pemahaman) atau firasat, bukan sekedar ilmu belaka.
Namun , menurut hemat penulis “ al fahmu” atau firasat sebenarnya tidaklah bertentangan dengan Ilmu Syareat, bahkan “ al fahmu “ sendiri merupakan bagian dari Ilmu Syareat tersebut. Jadi, ilmu yang disebutkan Allah di dalam Qs Al Baqarah : 282 di atas,- yang datang karena ketaqwaan -, termasuk di dalamnya adalah ilmu “ alfahmu “ atau “ firasat yang benar “ .
Contoh lain, adalah apa yang terjadi pada masa kekholifahan Umar ibnu Khottob, ketika datang kepadanya seorang perempuan yang memuji sifat suaminya, seraya berkata : “ Suami saya adalah orang yang paling baik di dunia ini, dia selalu bangun untuk melakukan sholat malam hingga pagi, kemudian dia juga puasa pada siang harinya nya hingga malam “. Kemudian perempuan tersebut tidak sanggup meneruskan perkataannya, karena malu. Setelah perempuan tersebut pulang, berkata Ka’ab bin Suwar , seorang qhodi yang cerdas dari kalangan tab’in , kepada Umar : “ Wahai amirul mukminin, perempuan tadi sebenarnya ingin mengadu kepada tuan “. “ Mengadu tentang apa ? “ , tanya Umar. “ Mengadu tentang kedholiman suaminya “, jawab Ka’ab. “ Kalau begitu panggil mereka berdua dan kamu selesaikan masalahnya “, Jawab Umar tegas. “ Saya yang menyelesaikan urusan mereka, sedang tuan menyaksikannya ? “ tanya Ka’ab ragu. “ Iya, karena firasatmu dapat membaca sesuatu yang saya tidak memperhatikannya “ , jawab Umar ra. Mendengar hal tersebut Ka’ab menjadi tenang dan mulai menyelesaikan problematika kedua suami istri tersebut dengan membacakan firman Allah :
فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع
“ Maka hendaklah engkau nikahi wanita- wanita yang engkau senangi : dua , tiga atau empat “ ( QS An Nisa : 3 )
Kemudian Ka’ab berkata : “ Dengan dasar ayat tersebut, maka ( wahai suami ) hendaknya engkau puasa tiga hari saja, adapun hari keempat engkau harus berbuka( tidak puasa ) bersama istrimu, dan hendaknya engkau sholat malam selama tiga malam saja, dan pada malam keempat, engkau harus tidur bersama istrimu “.
Umar bin Khottob berdecak kagum, ketika mendengar keputusan yang diajukan oleh Ka’ab kepada dua orang suami istri tersebut, kemudian berkata : “ Firasatmu yang kedua ini jauh lebih canggih dari yang pertama “. Akhirnya , Umar mengangkatnya sebagai qhodhi di kota Basroh.
Dari keterangan di atas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa firasat ternyata terdapat di dalam ajaran Islam, bahkan disebutkan di dalam Al Qur’an dan Hadits serta dilakukan oleh para sahabat dan para pengikutnya. Namun yang perlu di catat di sini, bahwa hal itu bukan berarti setiap orang boleh mengaku bahwa dia mempunyai firasat yang benar atau bahkan memutuskan sesuatu perkara dengan firasat , walaupun tanpa ada tanda- tanda atau bukti- bukti yang bisa di pertangungjawabkan baik secara Hukum Islam , maupun secara logika yang sehat.Karena hadits diatas, yang mengatakan untuk berhati- hati dengan firasat orang beriman , ditambah dengan contoh – contoh yang diutarakan di atas , telah membuktikan bahwa firasat yang bisa di terima adalah firasatnya orang yang beriman, yaitu orang yang benar- benar bertaqwa kepada Allah swt, disertai dengan bekal ilmu syar’I yang mapan.
Hal tersebut, dikuatkan dengan lafadh hadits bagian terakhir yang berbunyi ( karena dia melihat sesuatu dengan cahaya Allah ) maksud dari : “dengan cahaya Allah” di sini adalah dengan ketaqwaan dan dengan ilmu. Karena kalau sekedar mengaku taqwa tanpa bukti, tentunya tidak bisa di terima pengakuannya, karena salah satu bukti dari ketaqwaan adalah ilmu. Beribadah tanpa dasar ilmu bagaikan ibadahnya orang Nasrani (Kristen) yang dicap oleh Allah dengan golongan yang sesat. Seseorang tidak akan bisa beribadah dan bertaqwa kepada Allah dengan baik dan sempurna, kalau tidak mempunyai bekal ilmu yang cukup. Sebaliknya kalau hanya berbekal ilmu saja, tanpa ada keimanan dan ketaqwaan kepada Allah juga tidak akan terwujud sebuah cahaya, karena ia termasuk type orang Yahudi yang di murkai oleh Allah.
Akhirnya, kita mengatakan bahwa firasat yang benar dan yang bisa dipertanggung jawabkan, apalagi yang bisa digunakan sebagai dasar pijakan untuk memutuskan perkara, hanyalah dimiliki oleh orang– orang yang berilmu dan bertaqwa serta beriman.
Semoga Allah menganugrahkan firasat yang benar kepada kita semua. Amien.
Kairo, Juli 2003
http://ahmadzain.wordpress.com/2006/12/10/ilmu-firasat/
Minggu, 02 September 2012
Sabtu, 11 Agustus 2012
Ustad-Ustad Muda di TV yang Bikin?????
Ustad-Ustad Muda di TV yang Bikin?????
Melihat ustad-ustad muda yang wara-wiri tampil di TV menimbulkan keprihatinan bagi saya. Bukannya senang, tetapi malu. Malu melihat kelakuan dan gaya ustad yang membuat perut ini mau mual atau istilahnya ‘nek‘. Pengetahuan agama mereka minim, tetapi lagaknya seperti ulama yang mumpuni. Modal mereka kemampaun akting, wajah ganteng, hafal beberapa ayat, dan sedikit bakat orator. Televisi menggenjot mereka untuk menaikkan rating iklan dan itu artinya untung besar bagi pengelola TV. Untuk membuat penonton makin penasaran dan makin menyukai sang ustad, maka sisi kehidupan ustad muda pun digali termasuk kisah asmaranya. Kepopuleran sang ustad membuatnya menjadi selebriti dan kisah asmaranya memenuhi acara gosip (infotainment), lengkap dengan foto-foto perempuan yang pernah dipacarinya. Bah, semakin muak saja melihat ustad muda semacam itu, jauh dari kesan islami yang menjadi “kedok” da’inya.
Baru kali ini terjadi acara pernikahan seorang ustad muda ditayangkan langsung oleh televisi yang menjadi host sang ustad. Pernikahan artis kondang saja tidak pernah disiarkan langsung oleg televisi. Karena “mabuk” dalam popularitas, ucapan snag ustad kadang-kadang tidak terkendali. Dalam satu acara gosip dia menyatakan sambil bercanda bahwa kalau ia memberikan ceramah agama maka itu untuk mengejar pahala, tetapi kalau menikahi perempuan maka itu untuk mengejar paha. Hah! Ustad macam apakah yang berucap kalimat yang “jorok” tersebut. Ustad gadungan barangkali.
Tragisnya lagi, pamor sang ustad ini menjadi ternoda ketika mantan istrinya menceritakan aib masa lalu. Sang ustad beberapa kali melakukan hubungan intim dengan mantan istrinya itu karena tidak “tahan”. Sang ustad yang berkelit dikejar wartawan akhirnya mengaku melakukan itu setelah rujuk, sebuah alasan yang mengada-ada. Anehnya, meski aibnya terbongkar, sang ustad tetap saja makin eksis di televisi dan menjadi idola ibu-ibu majelis ta’lim. Televisi makin untung karena berita-berita tersebut membuat rating sang ustad makin laku.
Jamaaaah… ooo.. jamaaaah…
Ingat dengan slogan di atas? Ustad muda yang satu ini menggunakan lawakan dan akting seperti pemain teater untuk menarik perhatian. Penggunaan humor atau lawakan dalam ceramah agama sudah berlangsung sejak beberapa dekade. Yang mempeloporinya adalah dai sejuta ummat, Zainuddin MZ. Tetapi, humornya masih dalam batas kewajaran dan sangat mengena dengan isi ceramah yang disampaikannya. Lain Zainuddin MZ lain pula ustad asal Sulawesi tersebut. Lawakannya berlebihan dan terkesan dibuat-buat, begitu pula gerakannya seperti sedang berakting. Saya yang menonton menjadi nek, ini tuntunan atau tontonan? Ini ceramah agama atau hiburan agama?
Humor dalam ceramah agama itu ibarat bumbu, jika diberikan dalam takaran yang pas, ia menjadi bermanfaat dan membuat ceramah menjadi enak dan tidak membuat mengantuk. Tetapi jika diberikan dalam takaran yang berlebihan, ia membuat ceramah agama kehilangan tujuannya. Yang ditangkap oleh jamaah adalah kesan menghibur daripada menuntun ketaqwaan kepada Allah SWT. Orang datang ke ceramahnya akhirnya bukan untuk mengaji tetapi untuk mendengar aksi teater dan lawakan sang ustad Naudzubillah.
Saya masih respek kepada ustad-ustad muda semacam Yusuf Mansur, Arifin Ilham, atau Ilham Tanjung, dan dalam batas-batas tertentu kepada Aa Gym dan Ustad Jefry (yang terakhir ini dulu disebut ustad gaul tetapi sekarang saya lihat dia sudah banyak berubah). Ceramah agama mereka bernas dan tidak terkesan dibuat-buat, pengetahuan agamanya lumayan bagus, isi ceramahnya membuat kita banyak merenung, beda benar dengan ustad muda gadungan.
Banyaknya ustad muda gadungan yang bermunculan menjadi selebriti memancing minat banyak anak muda mengadu peruntungan menjadi ustad. Kontes da’i di televisi dibanjiri peminat, tetapi gaya mereka di televisi adalah aktivitas kepura-puraan dan hasil karbitan. Modal mereka adalah kepandaian berpidato yang dibuat-buat meniru da’i kondang dibalur dengan beberapa ayat supaya terlihat lebih religius. Kosong tak bermakna. Karena pemenang yang terpilih didasarkan pada jumlah dukungan SMS yang masuk, maka jangan kaget jika pememangnya adalah calon ustad yang wajahnya paling ganteng dan secara fisik lebih menarik (baca tulisan pembaca di Hidayatullah tentang hal ini).
Masih lebih baik ustad-ustad tawadhu di kampung-kampung, di pesantren-pesantren, yang ceramah agamanya lebih memikat hati ketimbang ustad muda gadungan di televisi itu. Mereka berceramah bukan untuk meraih popularitas, tetapi memang untuk memberikan tuntunan agama kepada ummat. Mereka mungkin tidak laku untuk tampil di televisi karena penampilan fisik mereka yang kurang memenuhi syarat atau tidak pandai melawak. Tetapi percayalah, substansi ceramah mereka banyak memberikan renungan mendalam untuk dijadikan tuntunan hidup di dunia dan di akhirat.
Dakwah, BERTUJUAN untuk…
Mengajak … bukan … mengejek
Mengajar … bukan … meng-hajar
Membina … bukan … menghina
Menasehati … bukan … menusuk hati
DAKWAH akan LANCAR dengan…
Menabur kasih … bukan…menguburnya
Menggalang kekuatan … bukan …menggulungnya
Menerangi kebenaran … bukan …memeranginya
Menjaga hak saudara … bukan …menjegalnya
Dakwah, SEHARUSNYA bisa…
Membimbing … bukan…membimbangkan
Memajukan … bukan …memojokkan
Menganjurkan … bukan …menghancurkan
Menyadarkan … bukan …menidurkan
DAKWAH akan lebih BERKWALITAS dengan…
Tabah hadapi cobaan … bukan …tambah minta pujian
Sabar lewati rintangan … bukan…gusar hadapi tantangan
Mewujudkan amalan nyata …bukan … mengumbar kata kata
Menuntun mad-uw … bukan …menonton mereka
DakWah, TERASA INDAH bila
untuk…Meneladani … bukan …menelanjangi
Saling memberi … bukan … salingmeng-iri
Menyemangati … bukan …menyengat-mati
Mencipta rasa damai … bukan …membuat massa ramai
DAKWAH, terasa MANIS dengan…
Menebar senyum manis … bukan… mengumbar wajah sinis
Berakhlak halus … bukan …berakal bulus
Berniat tulus … bukan … berminat fulus
DAKWAH, itu UPAYA untuk…
Mempertahankan akidah … bukan… mempertuhankan kabilah
Menghidupkan sunnah … bukan …meredupkannya dg bid’ah
Menjadikan orang patuh … bukan… membuatnya jatuh
Membuat umat sembuh … bukan… menjadikannya kumat &kambuh
Melihat ustad-ustad muda yang wara-wiri tampil di TV menimbulkan keprihatinan bagi saya. Bukannya senang, tetapi malu. Malu melihat kelakuan dan gaya ustad yang membuat perut ini mau mual atau istilahnya ‘nek‘. Pengetahuan agama mereka minim, tetapi lagaknya seperti ulama yang mumpuni. Modal mereka kemampaun akting, wajah ganteng, hafal beberapa ayat, dan sedikit bakat orator. Televisi menggenjot mereka untuk menaikkan rating iklan dan itu artinya untung besar bagi pengelola TV. Untuk membuat penonton makin penasaran dan makin menyukai sang ustad, maka sisi kehidupan ustad muda pun digali termasuk kisah asmaranya. Kepopuleran sang ustad membuatnya menjadi selebriti dan kisah asmaranya memenuhi acara gosip (infotainment), lengkap dengan foto-foto perempuan yang pernah dipacarinya. Bah, semakin muak saja melihat ustad muda semacam itu, jauh dari kesan islami yang menjadi “kedok” da’inya.
Baru kali ini terjadi acara pernikahan seorang ustad muda ditayangkan langsung oleh televisi yang menjadi host sang ustad. Pernikahan artis kondang saja tidak pernah disiarkan langsung oleg televisi. Karena “mabuk” dalam popularitas, ucapan snag ustad kadang-kadang tidak terkendali. Dalam satu acara gosip dia menyatakan sambil bercanda bahwa kalau ia memberikan ceramah agama maka itu untuk mengejar pahala, tetapi kalau menikahi perempuan maka itu untuk mengejar paha. Hah! Ustad macam apakah yang berucap kalimat yang “jorok” tersebut. Ustad gadungan barangkali.
Tragisnya lagi, pamor sang ustad ini menjadi ternoda ketika mantan istrinya menceritakan aib masa lalu. Sang ustad beberapa kali melakukan hubungan intim dengan mantan istrinya itu karena tidak “tahan”. Sang ustad yang berkelit dikejar wartawan akhirnya mengaku melakukan itu setelah rujuk, sebuah alasan yang mengada-ada. Anehnya, meski aibnya terbongkar, sang ustad tetap saja makin eksis di televisi dan menjadi idola ibu-ibu majelis ta’lim. Televisi makin untung karena berita-berita tersebut membuat rating sang ustad makin laku.
Jamaaaah… ooo.. jamaaaah…
Ingat dengan slogan di atas? Ustad muda yang satu ini menggunakan lawakan dan akting seperti pemain teater untuk menarik perhatian. Penggunaan humor atau lawakan dalam ceramah agama sudah berlangsung sejak beberapa dekade. Yang mempeloporinya adalah dai sejuta ummat, Zainuddin MZ. Tetapi, humornya masih dalam batas kewajaran dan sangat mengena dengan isi ceramah yang disampaikannya. Lain Zainuddin MZ lain pula ustad asal Sulawesi tersebut. Lawakannya berlebihan dan terkesan dibuat-buat, begitu pula gerakannya seperti sedang berakting. Saya yang menonton menjadi nek, ini tuntunan atau tontonan? Ini ceramah agama atau hiburan agama?
Humor dalam ceramah agama itu ibarat bumbu, jika diberikan dalam takaran yang pas, ia menjadi bermanfaat dan membuat ceramah menjadi enak dan tidak membuat mengantuk. Tetapi jika diberikan dalam takaran yang berlebihan, ia membuat ceramah agama kehilangan tujuannya. Yang ditangkap oleh jamaah adalah kesan menghibur daripada menuntun ketaqwaan kepada Allah SWT. Orang datang ke ceramahnya akhirnya bukan untuk mengaji tetapi untuk mendengar aksi teater dan lawakan sang ustad Naudzubillah.
Saya masih respek kepada ustad-ustad muda semacam Yusuf Mansur, Arifin Ilham, atau Ilham Tanjung, dan dalam batas-batas tertentu kepada Aa Gym dan Ustad Jefry (yang terakhir ini dulu disebut ustad gaul tetapi sekarang saya lihat dia sudah banyak berubah). Ceramah agama mereka bernas dan tidak terkesan dibuat-buat, pengetahuan agamanya lumayan bagus, isi ceramahnya membuat kita banyak merenung, beda benar dengan ustad muda gadungan.
Banyaknya ustad muda gadungan yang bermunculan menjadi selebriti memancing minat banyak anak muda mengadu peruntungan menjadi ustad. Kontes da’i di televisi dibanjiri peminat, tetapi gaya mereka di televisi adalah aktivitas kepura-puraan dan hasil karbitan. Modal mereka adalah kepandaian berpidato yang dibuat-buat meniru da’i kondang dibalur dengan beberapa ayat supaya terlihat lebih religius. Kosong tak bermakna. Karena pemenang yang terpilih didasarkan pada jumlah dukungan SMS yang masuk, maka jangan kaget jika pememangnya adalah calon ustad yang wajahnya paling ganteng dan secara fisik lebih menarik (baca tulisan pembaca di Hidayatullah tentang hal ini).
Masih lebih baik ustad-ustad tawadhu di kampung-kampung, di pesantren-pesantren, yang ceramah agamanya lebih memikat hati ketimbang ustad muda gadungan di televisi itu. Mereka berceramah bukan untuk meraih popularitas, tetapi memang untuk memberikan tuntunan agama kepada ummat. Mereka mungkin tidak laku untuk tampil di televisi karena penampilan fisik mereka yang kurang memenuhi syarat atau tidak pandai melawak. Tetapi percayalah, substansi ceramah mereka banyak memberikan renungan mendalam untuk dijadikan tuntunan hidup di dunia dan di akhirat.
Dakwah, BERTUJUAN untuk…
Mengajak … bukan … mengejek
Mengajar … bukan … meng-hajar
Membina … bukan … menghina
Menasehati … bukan … menusuk hati
DAKWAH akan LANCAR dengan…
Menabur kasih … bukan…menguburnya
Menggalang kekuatan … bukan …menggulungnya
Menerangi kebenaran … bukan …memeranginya
Menjaga hak saudara … bukan …menjegalnya
Dakwah, SEHARUSNYA bisa…
Membimbing … bukan…membimbangkan
Memajukan … bukan …memojokkan
Menganjurkan … bukan …menghancurkan
Menyadarkan … bukan …menidurkan
DAKWAH akan lebih BERKWALITAS dengan…
Tabah hadapi cobaan … bukan …tambah minta pujian
Sabar lewati rintangan … bukan…gusar hadapi tantangan
Mewujudkan amalan nyata …bukan … mengumbar kata kata
Menuntun mad-uw … bukan …menonton mereka
DakWah, TERASA INDAH bila
untuk…Meneladani … bukan …menelanjangi
Saling memberi … bukan … salingmeng-iri
Menyemangati … bukan …menyengat-mati
Mencipta rasa damai … bukan …membuat massa ramai
DAKWAH, terasa MANIS dengan…
Menebar senyum manis … bukan… mengumbar wajah sinis
Berakhlak halus … bukan …berakal bulus
Berniat tulus … bukan … berminat fulus
DAKWAH, itu UPAYA untuk…
Mempertahankan akidah … bukan… mempertuhankan kabilah
Menghidupkan sunnah … bukan …meredupkannya dg bid’ah
Menjadikan orang patuh … bukan… membuatnya jatuh
Membuat umat sembuh … bukan… menjadikannya kumat &kambuh
Isyarat Rasulullah SAW— Di Sinilah Tempat Turunnya Nabi Isa Alaihis Salam
Isyarat Rasulullah SAW— Di Sinilah Tempat Turunnya Nabi Isa Alaihis Salam
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dimana Rasulullah saw. bersabda,
“Pada malam aku diisra’kan, aku bertemu Nabi Musa. Baiklah aku jelaskan cirinya. Ternyata dia adalah seorang lelaki jangkung—maksudnya tinggi—, (rambut) kepalanya berombak, seperti orang dari Syanu’ah. Rasul bersabda, ‘Dan aku bertemu pula Nabi Isa. Baiklah aku jelaskan cirinya. ‘Lalu beliau katakan, ‘ Aku lihat dia (berkulit) kemerahan, seolah-olah dia baru keluar dari ‘dimas’—maksudnya kamar mandi.’”
Dan menurut riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, Rasulullah saw. bersabda,
“Aku melihat Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Ibrahim. Adapun Isa (berkulit) kemerahan, (berambut) keriting dan berdada bidang. Adapun Musa (berkulit) sawo matang, berperawakan tinggi-besar, berlambut lurus seperti orang Zuth.”
Sedang menurut riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, bahwa dia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah saw. menceritakan tentang si picak Dajjal di tengah orang banyak, beliau bersabda,
“Sesungguhnya Allah itu tidak picak. Ketahuilah bahwa si Picak Dajjal itu cacat mata kanannya. Matanya bagaikan anggur yang mengapung (di atas air). Allah memperlihatkan kepadaku dalam mimpi di sisi Ka’bah seorang lelaki berkulit sawo matang dengan warna yang paling indah yang pernah dilihat pada kulit siapapun. Dia biarkan ujung rambutnya terurai antara kedua pundaknya. Rambutnya berombak, kepalanya (seolah-olah) meneteskan air. Dia letakkan kedua tangannya di pundak dua orang lelaki sambil berthawaf mengelilingi Ka’bah. Maka aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Al-Masih Putra Maryam.’ Dan di belakangnya aku melihat seorang lelaki berambut pendek-keriting, cacat mata kanannya, sangat mirip dengan Ibnu Qathan. Dia meletakkan kedua tangannya di pundak seorang lelaki sambil berthawaf mengelilingi Ka’bah. Maka aku berkata, ‘Siapakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Si Picak Dajjal.’”
Hadist ini ada mutabi’nya diriwayatkan oleh ‘Ubaidillah dari Nafi’.
Al-Bukhari meriwayatkan pula dari Salim, dari ayahnya, dia berkata, Tidak, demi Allah. Rasulullah saw. tidak mengatakan Nabi Isa itu berkulit merah, tetapi beliau mengatakan:
“Ketika aku tidur, aku (bermimpi) thawaf di sekeliling Ka’bah. Tiba-tiba aku melihat seorang berkulit sawo matang, berambut lurus, berjalan pelan diapit dua orang lelaki. Kepalanya (seolah-olah) meneteskan air. Maka aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Inilah Al-Masih Putra Maryam.’ Lalu aku pergi sambil menoleh. Tiba-tiba aku melihat seorang berkulit merah, berperawakan tinggi-besar, berambut keriting, mata kanannya cacat, matanya bagaikan anggur yang mengapung (di atas air). Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Dajjal.’ Orang yang paling mirip dengannya adalah Ibnu Qathan.”
Kata Az-Zuhri, “Ibnu Qathan adalah seorang lelaki dari kabilah Khuza’ah, meninggal pada masa Jahiliyah.”
Dalam riwayat An-Nawwas bin Sam’an, Rasulullah saw. bersabda,
“Nabi Isa akan turun di menara putih sebelah timur kota Damaskus, mengenakan dua baju berwarna tanah merah, meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap dua orang malaikat. Apabila dia menundukkan kepala, maka (seolah-olah) meneteskan air, dan apabila mengangkat kepala, maka (seolah-olah) berjatuhanlah tetesan-tetesan itu bagai manik-manik mutiara. Dan tidak ada seorang kafir pun yang mencium bau nafasnya melainkan mati. Padahal nafasnya sejauh matanya memandang.”
Inilah hadist yang paling mahsyur tetnatng tempat turunnya Isa Al-Masih, yaitu di atas menara putih timur kota Damaskus. Namun dalam sebuah kitab ditemui juga, bahwa Nabi Isa as akan turun di menara putih sebelah timur Masjid Jami kota Damaskus.
Barangkali riwayat inilah yang dihapal dengan baik (mahfuzh). Sedang riwayat yang mengatakan “bahwa beliau turun di menara putih timur kota Damaskus,” itu merupakan ungkapan yang telah berubah, yakni ungkapan yang oleh perawinya diucapkan menurut apa yang dia pahami. Karena kenyataannya, di Damaskus tidak ada menara yang disebut “Al-Manarah Asy-Syarqiyah” (Menara Timur) selain menara yang terletak di sebelah timur Masjid Jami Umawi.
Dan agaknya pengertian inilah lebih pas dan cocok, karena ketika turunnya Nabi Isa itu iqamat telah dikumandangkan. Maka seseorang mempersilahkan beliau: “Wahai imam kaum muslimin, wahai Ruh Allah, majulah.”
Lalu beliau menjawab: “Majulah kamu, karena iqamat ini dikumandangkan untukmu.” Dan dalam riwayat lain dikatakan: “Sebagian kamu adalah pemimpin atas sebagian yang lain.”
Sekarang ini, bangunan menara tersebut telah direnovasi pada tahun 741 H, menggunakan batu-batu putih. Pembangunannya dilaksanakan atas biaya orang-orang Nasrani, yang telah membakar menara sebelumnya di tempat itu.
Masjid Jami Umawi (menara Timur kota Damaskus) SEBELUM direnovasi
Barangkali ini pun salah satu bukti kenabian Muhammad saw. yang tampak dengan mata kepala dimana Allah menakdirkan pembangunan menara ini atas biaya kaum Nasrani sampai dengan turunnya Nabi Isa bin Maryam kelak. Lalu beliau akan membunuh babi, mematahkan salib, tidak menerima upeti dari mereka.
Masjid Jami Umawi (menara Timur kota Damaskus) ketika direnovasi
Tetapi barangsiapa yang masuk Islam, maka diterima Islamnya. Dan kalau tidak, maka dibunuh. Begitupun hukum yang akan beliau putuskan terhadap orang-orang kafir di belahan bumi yang lain pada waktu itu. Demikianlah di antara pemberitahuan mengenai apa yang akan dilakukan Isa Al-Masih dan syariat yang diterapkannnya, yaitu bahwa yang akan beliau laksanakan tak lain adalah syariat Islam yang suci ini.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah engkau jadikan kami lahir dalam keadaan Islam dan wafatkan juga kami dalam keadaan Islam. Amin ya Rabbal Alamin….”
Masjid Jami Umawi (menara Timur kota Damaskus) saat ini.
Wallahu ‘alam bissawab..
sumber:http://sy42.wordpress.com/2012/06/12/isyarat-rasulullah-saw-di-sinilah-tempat-turunnya-nabi-isa-alaihis-salam/menara-timur-kota-damaskus2/
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dimana Rasulullah saw. bersabda,
“Pada malam aku diisra’kan, aku bertemu Nabi Musa. Baiklah aku jelaskan cirinya. Ternyata dia adalah seorang lelaki jangkung—maksudnya tinggi—, (rambut) kepalanya berombak, seperti orang dari Syanu’ah. Rasul bersabda, ‘Dan aku bertemu pula Nabi Isa. Baiklah aku jelaskan cirinya. ‘Lalu beliau katakan, ‘ Aku lihat dia (berkulit) kemerahan, seolah-olah dia baru keluar dari ‘dimas’—maksudnya kamar mandi.’”
Dan menurut riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, Rasulullah saw. bersabda,
“Aku melihat Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Ibrahim. Adapun Isa (berkulit) kemerahan, (berambut) keriting dan berdada bidang. Adapun Musa (berkulit) sawo matang, berperawakan tinggi-besar, berlambut lurus seperti orang Zuth.”
Sedang menurut riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, bahwa dia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah saw. menceritakan tentang si picak Dajjal di tengah orang banyak, beliau bersabda,
“Sesungguhnya Allah itu tidak picak. Ketahuilah bahwa si Picak Dajjal itu cacat mata kanannya. Matanya bagaikan anggur yang mengapung (di atas air). Allah memperlihatkan kepadaku dalam mimpi di sisi Ka’bah seorang lelaki berkulit sawo matang dengan warna yang paling indah yang pernah dilihat pada kulit siapapun. Dia biarkan ujung rambutnya terurai antara kedua pundaknya. Rambutnya berombak, kepalanya (seolah-olah) meneteskan air. Dia letakkan kedua tangannya di pundak dua orang lelaki sambil berthawaf mengelilingi Ka’bah. Maka aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Al-Masih Putra Maryam.’ Dan di belakangnya aku melihat seorang lelaki berambut pendek-keriting, cacat mata kanannya, sangat mirip dengan Ibnu Qathan. Dia meletakkan kedua tangannya di pundak seorang lelaki sambil berthawaf mengelilingi Ka’bah. Maka aku berkata, ‘Siapakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Si Picak Dajjal.’”
Hadist ini ada mutabi’nya diriwayatkan oleh ‘Ubaidillah dari Nafi’.
Al-Bukhari meriwayatkan pula dari Salim, dari ayahnya, dia berkata, Tidak, demi Allah. Rasulullah saw. tidak mengatakan Nabi Isa itu berkulit merah, tetapi beliau mengatakan:
“Ketika aku tidur, aku (bermimpi) thawaf di sekeliling Ka’bah. Tiba-tiba aku melihat seorang berkulit sawo matang, berambut lurus, berjalan pelan diapit dua orang lelaki. Kepalanya (seolah-olah) meneteskan air. Maka aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Inilah Al-Masih Putra Maryam.’ Lalu aku pergi sambil menoleh. Tiba-tiba aku melihat seorang berkulit merah, berperawakan tinggi-besar, berambut keriting, mata kanannya cacat, matanya bagaikan anggur yang mengapung (di atas air). Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Dajjal.’ Orang yang paling mirip dengannya adalah Ibnu Qathan.”
Kata Az-Zuhri, “Ibnu Qathan adalah seorang lelaki dari kabilah Khuza’ah, meninggal pada masa Jahiliyah.”
Dalam riwayat An-Nawwas bin Sam’an, Rasulullah saw. bersabda,
“Nabi Isa akan turun di menara putih sebelah timur kota Damaskus, mengenakan dua baju berwarna tanah merah, meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap dua orang malaikat. Apabila dia menundukkan kepala, maka (seolah-olah) meneteskan air, dan apabila mengangkat kepala, maka (seolah-olah) berjatuhanlah tetesan-tetesan itu bagai manik-manik mutiara. Dan tidak ada seorang kafir pun yang mencium bau nafasnya melainkan mati. Padahal nafasnya sejauh matanya memandang.”
Inilah hadist yang paling mahsyur tetnatng tempat turunnya Isa Al-Masih, yaitu di atas menara putih timur kota Damaskus. Namun dalam sebuah kitab ditemui juga, bahwa Nabi Isa as akan turun di menara putih sebelah timur Masjid Jami kota Damaskus.
Barangkali riwayat inilah yang dihapal dengan baik (mahfuzh). Sedang riwayat yang mengatakan “bahwa beliau turun di menara putih timur kota Damaskus,” itu merupakan ungkapan yang telah berubah, yakni ungkapan yang oleh perawinya diucapkan menurut apa yang dia pahami. Karena kenyataannya, di Damaskus tidak ada menara yang disebut “Al-Manarah Asy-Syarqiyah” (Menara Timur) selain menara yang terletak di sebelah timur Masjid Jami Umawi.
Dan agaknya pengertian inilah lebih pas dan cocok, karena ketika turunnya Nabi Isa itu iqamat telah dikumandangkan. Maka seseorang mempersilahkan beliau: “Wahai imam kaum muslimin, wahai Ruh Allah, majulah.”
Lalu beliau menjawab: “Majulah kamu, karena iqamat ini dikumandangkan untukmu.” Dan dalam riwayat lain dikatakan: “Sebagian kamu adalah pemimpin atas sebagian yang lain.”
Sekarang ini, bangunan menara tersebut telah direnovasi pada tahun 741 H, menggunakan batu-batu putih. Pembangunannya dilaksanakan atas biaya orang-orang Nasrani, yang telah membakar menara sebelumnya di tempat itu.
Masjid Jami Umawi (menara Timur kota Damaskus) SEBELUM direnovasi
Barangkali ini pun salah satu bukti kenabian Muhammad saw. yang tampak dengan mata kepala dimana Allah menakdirkan pembangunan menara ini atas biaya kaum Nasrani sampai dengan turunnya Nabi Isa bin Maryam kelak. Lalu beliau akan membunuh babi, mematahkan salib, tidak menerima upeti dari mereka.
Masjid Jami Umawi (menara Timur kota Damaskus) ketika direnovasi
Tetapi barangsiapa yang masuk Islam, maka diterima Islamnya. Dan kalau tidak, maka dibunuh. Begitupun hukum yang akan beliau putuskan terhadap orang-orang kafir di belahan bumi yang lain pada waktu itu. Demikianlah di antara pemberitahuan mengenai apa yang akan dilakukan Isa Al-Masih dan syariat yang diterapkannnya, yaitu bahwa yang akan beliau laksanakan tak lain adalah syariat Islam yang suci ini.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah engkau jadikan kami lahir dalam keadaan Islam dan wafatkan juga kami dalam keadaan Islam. Amin ya Rabbal Alamin….”
Masjid Jami Umawi (menara Timur kota Damaskus) saat ini.
Wallahu ‘alam bissawab..
sumber:http://sy42.wordpress.com/2012/06/12/isyarat-rasulullah-saw-di-sinilah-tempat-turunnya-nabi-isa-alaihis-salam/menara-timur-kota-damaskus2/
Jumat, 03 Agustus 2012
Surat Dari GAZA
“Untuk saudaraku di Indonesia, mengapa saya harus memilih dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?
Di saat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.
Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama’ah haji asal Gaza sejak tahun 1987 sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian. Wah pasti uang kalian sangat banyak, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang memnunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Subhanallah.
Wahai saudaraku di Indonesia, Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa saya dan kami yang ada di Gaza ini, tidak dilahirkan di negri kalian saja. Pasti sangat indah dan mengagumkan. Negri kalian aman, kaya, dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negri kalian.
Pasti ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapoatkan di toko-toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.
Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku, tidak seperti di negri kami ini. Tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah. Sehingga istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, ya di atas mobil saudaraku.!
Susu formula bayi adalah barang langka di Gaza sejak kami diblokade 2 tahun yang lalu, namun istri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga 2 tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar Asi mereka, istri kami rela minum air rendaman gandum.
Namun, mengapa di negri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit-parit, selokan, dan tempat sampah. Itu yang kami dapat dai informasi di televisi.
Dan yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negri kalian adalah negri yang tertinggi kasus aborsinya untuk wilayah Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina seperti itu? Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami disini.
Memeang hampir setiap hari di Gaza sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati. Namun, bukanlah di selokan-selokan atau got-got apalagi di tempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid karena serangan roket tentara Israel!
Kami temukan mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah aset perjuangan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negri ini.
Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember 2009 kemarin, saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 di antaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!
Wahai saudaraku di Indonesia, Negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena sulit mencari rizki disana? Apa negri kalian diblokade juga?
Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade. Sungguh kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bulan ini belum menerima gaji bulanan saya. Tetapi Allah SWT yang akan mencukupkan rizki untuk kami.
Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya, mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku.
Dan Perdana Menteri kami, Ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut. Wahai saudaraku di Indonesia, Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negri antum (anda). Seperti yang diceritakan teman saya, program pengajian kalian pasti bagus, banyak kitab mungkin yang kalian yang telah baca. Dan banyak buku-buku pasti sudah kalian baca. Kalian pun bersemangat kan? Itu karena kalian punya waktu.
Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini. Satu jam, ya satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqah. Setelah itu kami harus terjun ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami.
Kami disini sangan menanti-nantikan saat halaqah tersebut walau hanya satu jam. Tentu kalian lebih bersyukur. Kalian punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum, dan takaful disana. Halafalan antum pasti lebih banyak daripada kami. Semua pegawai dan pejuang HAMAS disini wajib menghapal Surah Al-Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?
Akhir Desember kemarin, saya menghadiri acar wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia merupakan diantara 1000 anak yang tahun ini menghafal Al-Qur’an dan umurnya baru 10 tahun. Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal Al-Qur’an ketimbang anak-anak kimi disini. Di Gaza tidak ada SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) seperti di tempat kalian yang menyebar seperti jamur di musim hujan. Disini anak-anak belajar diantara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun kurma. Ya, di tempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi suara setoran hafalan Al-Qur’an mereka bergemuruh dianatara bunyi-bunyi senapan tentara Israel. Ayat-ayat jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung mereka rasakan.
Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia. Kami menyaksikan aksi demo-demo kalian disini. Subhanallah, kami sangat terhibur. Karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.
Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini, termasuk kalian yang di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan , saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhwah kalian kepada kami. Doa-doa dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.
Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telpon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi. Salam untuk semua pejuang-pejuang Islam dan ulama-ulama kalian.
Abdullah Al Ghaza
Sumber: http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=92822
Kamis, 02 Agustus 2012
Arti Sebuah Cinta
Arti Sebuah Cinta
penulis Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi
Cinta bisa jadi merupakan kata yg paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yg bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita harta anak kendaraan rumah dan berbagai keni’matan dunia lain merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yg paling tinggi dan mulia adl cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.
Kita sering mendengar kata yg terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakan namun sulit utk mendefinisikannya. Terlebih utk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu seseorang dgn gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dgn gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan “Kami sama-sama cinta suka sama suka.” Karena alasan cinta seorang bapak membiarkan anak-anak bergelimang dlm dosa. Dengan alasan cinta pula seorang suami melepas istri hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.
Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tdk lagi menjadi tolok ukur. dlm keadaan seperti ini setan tampil mengibarkan bendera dan menabuh genderang penyesatan dgn mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yg dilarang Allah dan Rasul-Nya Muhammad . Allah berfirman:
“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yg diingini yaitu: wanita-wanita anak-anak harta yg banyak dari jenis emas perak kuda pilihan binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yg baik.”
Rasulullah dlm hadits dari shahabat Tsauban mengatakan: ‘Hampir-hampir orang2 kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumun di atas sebuah tempayan.’ Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?’ Rasulullah berkata: ‘Bahkan kalian saat itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Allah akan campakkan ke dlm hati kalian al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yg dimaksud dgn al-wahn wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab: ‘Cinta dunia dan takut mati.’
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dlm tafsir mengatakan: “Allah memberitakan dlm dua ayat ini tentang keadaan manusia kaitan dgn masalah lbh mencintai kehidupan dunia daripada akhirat dan Allah menjelaskan perbedaan yg besar antara dua negeri tersebut. Allah memberitakan bahwa hal-hal tersebut dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkan di dlm hati-hati mereka semua berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikan sebagai tujuan terbesar dari cita-cita cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adl perhiasan yg sedikit dan akan hilang dlm waktu yg sangat cepat.”
Definisi Cinta
Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit krn tdk bisa dijangkau dgn kalimat dan sulit diraba dgn kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tdk bisa didefinisikan dgn jelas bahkan bila didefinisikan tdk menghasilkan melainkan menambah kabur dan tdk jelas definisi adl ada cinta itu sendiri.”
Hakikat Cinta
Cinta adl sebuah amalan hati yg akan terwujud dlm lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dgn apa yg diridhai Allah mk ia akan menjadi ibadah. Dan sebalik jika tdk sesuai dgn ridha-Nya mk akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adl ibadah hati yg bila keliru menempatkan akan menjatuhkan kita ke dlm sesuatu yg dimurkai Allah yaitu kesyirikan.
Cinta kepada Allah
Cinta yg dibangun krn Allah akan menghasilkan kebaikan yg sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dlm Madarijus Salikin berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:
“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah mk ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian.”
Mereka berkata: “ ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’ ini adl isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda adl mengikuti Rasulullah faidah dan buah adl kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tdk mengikuti Rasulullah mk kecintaan Allah kepada kalian tdk akan terwujud dan akan hilang.”
Bila demikian keadaan mk mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah. Rasulullah bersabda dlm hadits yg diriwayatkan dari Anas bin Malik :
“Tiga hal yg barangsiapa ketiga ada pada diri niscaya dia akan mendapatkan manis iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lbh ia cintai daripada selain kedua dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintai melainkan krn Allah dan hendaklah dia benci utk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci utk dilemparkan ke dlm neraka.”
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab ada cinta ada sepuluh perkara:
Pertama membaca Al Qur’an menggali dan memahami makna-makna serta apa yg dimaukannya.
Kedua mendekatkan diri kepada Allah dgn amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga terus-menerus berdzikir dlm tiap keadaan.
Keempat mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolak nafsu.
Kelima hati yg selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala ni’mat-Nya.
Ketujuh tunduk hati di hadapan Allah .
Kedelapan berkhalwat bersama-Nya ketika Allah turun .
Kesembilan duduk bersama orang2 yg memiliki sifat cinta dan jujur.
Kesepuluh menjauhkan segala sebab-sebab yg akan menghalangi hati dari Allah .
Cinta adl Ibadah
Sebagaimana telah lewat cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yg memiliki kedudukan tinggi dlm agama sebagaimana ibadah-ibadah yg lain. Allah berfirman:
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dlm hatimu.”
“Dan orang2 yg beriman lbh cinta kepada Allah.”
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yg Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.”
Adapun dalil dari hadits Rasulullah adl hadits Anas yg telah disebut di atas yg dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lbh dia cintai daripada selain keduanya.”
Macam-macam cinta
Di antara para ulama ada yg membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yg membagi menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dlm kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid menyatakan bahwa cinta ada empat macam:
Pertama cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yg dicintai-Nya dgn dalil ayat dan hadits di atas.
Kedua cinta syirik.
Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah berfirman:
“Dan di antara manusia ada yg menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.”
Ketiga cinta maksiat.
Yaitu cinta yg akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yg diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yg diperintahkan-Nya. Allah berfirman:
“Dan kalian mencintai harta benda dgn kecintaan yg sangat.”
Keempat cinta tabiat.
Seperti cinta kepada anak keluarga diri harta dan perkara lain yg dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah berfirman:
“Ketika mereka berkata: ‘Yusuf dan adik lbh dicintai oleh bapak kita daripada kita.”
Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban mk berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lbh cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih mk cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.
Buah cinta
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Ketahuilah bahwa yg menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta takut dan harapan. Dan yg paling kuat adl cinta dan cinta itu sendiri merupakan tujuan krn akan didapatkan di dunia dan di akhirat.”
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di menyatakan: “Dasar tauhid dan ruh adl keikhlasan dlm mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabb juga sempurna.”
Bila kita dita bagaimana hukum cinta kepada selain Allah? mk kita tdk boleh mengatakan haram dgn spontan atau mengatakan boleh secara global akan tetapi jawaban perlu dirinci.
Pertama bila dia mencintai selain Allah lbh besar atau sama dgn cinta kepada Allah mk ini adl cinta syirik hukum jelas haram.
Kedua bila dgn cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dlm maksiat mk cinta ini adl cinta maksiat hukum haram.
Ketiga bila merupakan cinta tabiat mk yg seperti ini diperbolehkan.
Wallahu a’lam.
Sumber: www.asysyariah.com
Langganan:
Postingan (Atom)







